8 Bandara Setop Operasional Imbas Erupsi Anak Krakatau, Ternyata Ini Bahaya Abu Vulkanik bagi Pesawat

Erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9) memaksa 8 bandara menghentikan operasional sementara, termasuk Bandara Soekarno Hatta hingga Radin Inten II Lampung. BMKG membeberkan alasan utamanya: abu vulkanik berbahaya bagi pesawat karena bisa mematikan mesin, mengikis kaca kokpit, hingga mengganggu sistem navigasi.

Oct 2, 2026 - 16:02
Oct 2, 2026 - 16:02
 0
8 Bandara Setop Operasional Imbas Erupsi Anak Krakatau, Ternyata Ini Bahaya Abu Vulkanik bagi Pesawat
8 Bandara Setop Operasional Imbas Erupsi Anak Krakatau, Ternyata Ini Bahaya Abu Vulkanik bagi Pesawat

Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Minggu (6/9) berdampak langsung pada dunia penerbangan Tanah Air. Sebanyak 8 bandar udara, mulai dari Bandara Soekarno Hatta hingga Bandara Radin Inten II Lampung, terpaksa menghentikan sementara operasionalnya. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan, sebab abu vulkanik dinilai berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa erupsi gunung api menghasilkan abu vulkanik, material halus yang dapat terbawa angin hingga jarak yang cukup jauh. Partikel ini berpotensi memengaruhi kesehatan, kualitas udara, aktivitas masyarakat, lingkungan, serta sektor transportasi dan penerbangan.

Dalam unggahannya di Instagram pada Minggu (6/9), BMKG membeberkan sejumlah dampak serius abu vulkanik terhadap pesawat. Salah satu yang paling fatal adalah kemampuannya mematikan mesin pesawat. Abu vulkanik mengandung serpihan kaca dan batuan tajam. Jika terhisap masuk ke mesin pesawat yang sangat panas, abu akan meleleh dan menyumbat mesin hingga mati.

Selain mengancam mesin, abu vulkanik juga bisa mengurangi jarak pandang pilot. Gesekan partikel abu dinilai dapat mengikis kaca kokpit pesawat seperti amplas, sehingga kaca menjadi buram dan pilot tak bisa melihat ke luar. Kondisi ini tentu sangat berbahaya, terutama saat pesawat hendak lepas landas atau mendarat.

Abu vulkanik juga berpotensi mengganggu sistem navigasi pesawat. Partikel halus ini dapat menyumbat sensor kecepatan dan ketinggian pesawat, sehingga berpotensi mengganggu akurasi informasi penerbangan. Jika dibiarkan, gangguan pada instrumen tersebut bisa berujung pada risiko kecelakaan.

BMKG menjelaskan bahwa abu vulkanik merupakan material halus yang terbentuk saat gunung api meletus secara eksplosif. Abu ini tersusun dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran sangat kecil, umumnya kurang dari 2 mm. Karena ukurannya yang sangat halus, abu dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer dari lokasi erupsi.

Berdasarkan informasi dari PVMBG dan VAAC Darwin serta hasil analisis RGB Citra Himawari-9 per Minggu (6/9) pukul 12.00 WIB, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terbagi menjadi dua arah. Sebaran pertama bergerak ke arah timur laut-selatan yang mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat serta perairan sekitarnya.

Sementara sebaran kedua bergerak ke arah barat daya-barat laut, mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian Selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu-Lampung-Banten. Luasnya sebaran abu inilah yang membuat otoritas penerbangan memilih menghentikan sementara operasional bandara demi keselamatan bersama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0