13 Tahun Festival Nan Jombang Tanggal 3, Bertahan Meski Harus Jual Rumah dan Kendaraan

Festival Nan Jombang Tanggal 3 telah berlangsung selama 13 tahun sebagai ruang bagi seniman dan penonton. Direktur festival, Angga Mefri, mengungkapkan bahwa komitmen dan kecintaan pada kesenian menjadi kunci bertahan, meski harus menghadapi tantangan pendanaan hingga menjual rumah dan kendaraan. Festival ini tetap berpegang pada proses dan tradisi sebagai identitas Nan Jombang Dance Company.

Oct 1, 2026 - 04:03
Oct 1, 2026 - 04:03
 0
13 Tahun Festival Nan Jombang Tanggal 3, Bertahan Meski Harus Jual Rumah dan Kendaraan
13 Tahun Festival Nan Jombang Tanggal 3, Bertahan Meski Harus Jual Rumah dan Kendaraan

Festival Nan Jombang Tanggal 3 kembali digelar dan telah memasuki usia 13 tahun. Bertempat di Ladang Tari Nan Jombang, acara ini konsisten menjadi ruang pertemuan bagi seniman dan penonton setiap tanggal 3. Direktur Festival, Angga Mefri, menyatakan bahwa keberlangsungan festival tidak lepas dari kecintaan terhadap kesenian dan komitmen menyediakan ruang bagi para seniman.

"Terus bertahan mungkin karena cintanya Nan Jombang untuk kesenian dan seni pertunjukan itu sendiri. Dan cintanya Nan Jombang bagaimana bisa memberikan ruang dan berbagi ruang juga untuk yang lainnya," ujar Angga.

Meski demikian, perjalanan festival tidak selalu mulus. Angga mengakui bahwa mencari sponsor menjadi persoalan paling sulit. Namun, komitmen yang kuat membuat kegiatan ini tetap berjalan. Bahkan, pada masa-masa tertentu, festival harus ditopang dengan pengorbanan pribadi, seperti menjual rumah dan kendaraan.

"Perjuangannya berdarah-darah, sampai jual rumah, sampai jual kendaraan juga buat festival ini," tambahnya.

Sejak 2017 hingga sekarang, Bakti Budaya Djarum Foundation turut memberikan dukungan. Menurut Angga, dukungan tersebut membantu menjaga keberlangsungan festival. Ia juga menekankan pentingnya proses kurasi yang disiplin dan selektif. Penampil tidak dipilih berdasarkan status utusan daerah, melainkan murni karena kualitas karya dan proses kreatifnya.

"Kalau mengundang atau mengkurasi penampil-penampil di Festival Nan Jombang tanggal 3, kita tidak pernah mengambil utusan. Tidak ada utusan di sini. Kebetulan saja mereka tinggalnya di wilayah itu. Tapi secara kontak, kita person to person. Memang kualitas dari karyanya, dari proses karyanya," jelas Angga.

Di tengah perkembangan zaman, Nan Jombang tetap berakar pada tradisi. Angga menegaskan bahwa karya boleh modern atau kontemporer, tetapi tidak boleh kehilangan pijakan tradisi. "Sebenarnya yang dipertahankan adalah seberapa modern pun kita, seberapa kontemporer pun karya anda, bahwa anda akan tetap balik. Bahwa anda akan tetap berpijak ke tradisi itu sendiri. Seberapa jauh pun karya anda ke depan, seberapa maju pun modernnya karya anda, basic-nya adalah tradisi itu sendiri. Itulah identity dari Nan Jombang Dance Company. Tradisi, pasti, itu gak bisa lepas," ujarnya.

Nan Jombang Dance Company sendiri telah berkiprah selama 43 tahun dan disebut sebagai kelompok seni tertua di Sumatera Barat. Karya mereka telah melanglang buana, termasuk pernah tampil di Broadway, Amerika Serikat. Angga menyebut pengalaman itu sebagai bukti bahwa karya yang berangkat dari idealisme tetap mendapat tempat di kancah internasional.

Ke depan, Angga tidak berbicara soal target jangka pendek. Baginya, yang terpenting adalah merawat dan mewariskan perjalanan panjang Nan Jombang. "Of course, merawat, mewarisi, dan menjalankannya ke depan lebih baik," tutupnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0