WHO Peringatkan Ebola di Kongo Melaju Lebih Cepat dari Penanganan, Korban Tembus 2.000 Jiwa
WHO memperingatkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo menyebar lebih cepat daripada kemampuan otoritas kesehatan mengendalikannya. Korban jiwa telah menembus 2.000 orang dari lebih dari 4.300 kasus. Jika laju penyebaran tidak melambat, wabah ini berpotensi melampaui wabah Ebola di Afrika Barat 2014-2016 yang menewaskan lebih dari 11.000 orang. Penanganan terhambat oleh wilayah terpencil, konflik, infrastruktur lemah, dan mogok kerja tenaga kesehatan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan keras terkait wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DR Kongo). Lembaga kesehatan internasional itu menyebut penyebaran virus kini berlangsung lebih cepat daripada kemampuan otoritas setempat untuk mengendalikannya. Jika laju penularan tidak segera ditekan, jumlah korban jiwa dikhawatirkan akan melampaui rekor wabah Ebola paling mematikan dalam sejarah.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam pernyataannya pada Rabu (12/8) menegaskan bahwa dengan kecepatan penyebaran saat ini, wabah di Kongo akan melampaui wabah Ebola di Afrika Barat pada 2014-2016. Wabah yang pernah melanda Guinea, Sierra Leone, dan Liberia itu tercatat menewaskan lebih dari 11.000 orang dari sekitar 28.000 kasus dan menjadi yang paling mematikan sepanjang sejarah Ebola.
Hingga kini, wabah di Kongo Timur telah merenggut lebih dari 2.000 nyawa dari total lebih dari 4.300 kasus yang dilaporkan. Angka tersebut menjadikan wabah ini salah satu yang penyebarannya tercepat yang pernah tercatat. Wabah ini secara resmi diumumkan pada 15 Mei, namun hasil pengurutan genetik menunjukkan virus sebenarnya telah menyebar sejak Februari.
Wabah ini disebabkan oleh virus Bundibugyo yang langka. Hingga saat ini, belum ada vaksin atau pengobatan yang disetujui secara resmi untuk menangani jenis virus tersebut. Kondisi ini semakin mempersulit upaya pengendalian di lapangan.
Penanganan wabah juga dihadapkan pada berbagai hambatan serius. Wilayah terdampak berada di daerah terpencil yang dekat dengan zona konflik di perbatasan Kongo dengan Sudan Selatan, Uganda, dan Rwanda. Banyak kasus infeksi dan kematian terjadi di wilayah yang sulit dijangkau oleh petugas kesehatan.
Infrastruktur yang lemah, fasilitas kesehatan yang kekurangan sumber daya, penyebaran informasi yang salah, serta aksi mogok tenaga kesehatan akibat upah yang belum dibayar turut memperlambat respons penanganan. Direktur Operasi Peringatan dan Respons Darurat Kesehatan WHO, Dr. Abdirahman Mahamud, memperkirakan wabah akan mencapai puncaknya dalam enam bulan berdasarkan skenario moderat. Namun, dalam skenario yang lebih buruk, wabah dapat berlangsung selama sembilan hingga dua belas bulan.
Para pejabat WHO memperingatkan bahwa jumlah korban di Kongo Timur dapat melampaui angka wabah Afrika Barat jika akses petugas kesehatan ke masyarakat terdampak tidak segera diperbaiki. Mereka mendesak komunitas internasional untuk meningkatkan dukungan guna mencegah bencana kemanusiaan yang lebih luas.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0