Wali Kota New York Setop AI di Kelas, 600 Ribu Siswa Terdampak Moratorium Setahun
Wali Kota New York Zohran Mamdani memberlakukan moratorium penggunaan AI generatif bagi siswa dari jenjang 2-K hingga kelas delapan selama satu tahun, berdampak pada sekitar 600 ribu siswa atau dua pertiga populasi sekolah negeri New York City. Lebih dari 38 program AI akan dimatikan atau dinonaktifkan jika tak memenuhi standar keselamatan baru, sementara siswa SMA tetap mendapat proyek percontohan dan kelas literasi AI.
Wali Kota New York Zohran Mamdani mengumumkan moratorium penggunaan kecerdasan buatan generatif bagi siswa sekolah selama satu tahun. Kebijakan yang diumumkan pada Kamis (3/9) itu menyasar siswa jenjang 2-K hingga kelas delapan pada tahun ajaran mendatang, dan diperkirakan berdampak pada sekitar 600 ribu siswa atau dua pertiga dari total populasi siswa sekolah negeri New York City.
Langkah ini tercatat sebagai salah satu pembatasan AI paling agresif yang diterapkan distrik sekolah besar di Amerika Serikat. Dalam konferensi pers di Brooklyn, Mamdani menyatakan bahwa industri teknologi ingin masyarakat percaya AI dalam pendidikan usia dini bersifat tak terhindarkan dan diperlukan. Namun ia menegaskan belum melihat studi yang membuktikan AI bermanfaat bagi siswa sekolah dasar dan menengah, kecuali penelitian yang disponsori perusahaan yang akan diuntungkan.
Mamdani juga menyoroti hak orang tua di New York untuk mengetahui bahwa anak-anak mereka memperoleh pendidikan berkualitas tanpa data mereka dimanfaatkan perusahaan teknologi. Menurutnya, orang tua berhak tahu data anak-anak mereka tidak akan ditambang Big Tech dan perkembangan anak tidak dikorbankan demi keuntungan perusahaan.
Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya penolakan terhadap penggunaan teknologi di ruang kelas di AS. Sejumlah orang tua mendorong sekolah mengurangi paparan teknologi pada anak. Beberapa negara bagian seperti Virginia, Idaho, dan Oklahoma sebelumnya telah meminta lembaga pendidikan menyusun panduan penggunaan AI, namun pendekatan New York City dinilai lebih ketat karena menghentikan sementara AI untuk siswa yang lebih muda.
Pemerintah kota akan menghentikan atau menonaktifkan komponen AI pada lebih dari 38 program yang sebelumnya diperbolehkan jika produk tersebut tidak memenuhi standar keselamatan dan pengawasan baru. Salah satu yang terdampak adalah Amira, tutor membaca berbasis AI. New York City juga tidak akan menggunakan produk yang tidak memungkinkan fitur AI dimatikan.
Selain AI, pemerintah kota membatasi penggunaan perangkat individual di ruang kelas. Perangkat umumnya dilarang untuk siswa prasekolah hingga kelas dua. Untuk kelas tiga hingga lima, sekolah direkomendasikan membatasi waktu penggunaan perangkat individual maksimal 30 menit, sedangkan siswa sekolah menengah pertama maksimal 45 menit.
Presiden American Federation of Teachers Randi Weingarten menilai kebijakan tersebut sejalan dengan usulan organisasinya. Menurutnya, siswa yang lebih tua perlu dipersiapkan menghadapi dunia digital dan diajarkan menggunakan AI secara hati-hati, sementara anak yang lebih muda perlu lebih banyak belajar berpikir tanpa terlalu banyak layar dan tanpa menyerahkan proses kognitif kepada teknologi.
Pendekatan berbeda diterapkan untuk siswa sekolah menengah atas karena Mamdani menilai remaja tumbuh di dunia yang sudah dipenuhi AI. New York City akan menjalankan lima proyek percontohan AI yang mencakup maksimal 50 ribu siswa SMA atau sekitar 5 persen dari populasi siswa sekolah negeri. Seluruh siswa SMA juga akan mendapatkan kelas literasi AI dua kali dalam setahun.
Pengecualian terhadap larangan AI diberikan untuk teknologi asistif bagi sebagian siswa penyandang disabilitas dan pelajar bahasa Inggris, serta untuk tugas pemrograman dan buku elektronik.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0