Wajah AI Kian Sulit Dibedakan, Ilmuwan ANU Beberkan Cara Deteksinya Tanpa Bantuan Perangkat Lunak

Ilmuwan dari Australian National University mengembangkan metode baru untuk mendeteksi wajah buatan AI tanpa perangkat lunak, yakni dengan melatih kemampuan visual manusia. Pendekatan ini berfokus pada kesan keseluruhan seperti simetri, proporsionalitas, daya tarik, ekspresivitas, keunikan, dan kemudahan diingat. Akurasi peserta diklaim meningkat hampir dua kali lipat di tengah lonjakan deepfake yang mencapai 900 persen per tahun.

Oct 3, 2026 - 04:02
Oct 3, 2026 - 04:02
 0
Wajah AI Kian Sulit Dibedakan, Ilmuwan ANU Beberkan Cara Deteksinya Tanpa Bantuan Perangkat Lunak
Wajah AI Kian Sulit Dibedakan, Ilmuwan ANU Beberkan Cara Deteksinya Tanpa Bantuan Perangkat Lunak

Jakarta, CNN Indonesia -- Kemampuan membedakan wajah asli dan wajah buatan kecerdasan buatan (AI) semakin menjadi tantangan di era maraknya konten AI slop dan deepfake. Ilmuwan dari Australian National University (ANU) menawarkan pendekatan baru yang tidak bergantung pada perangkat lunak pendeteksi AI, melainkan dengan melatih kemampuan visual manusia secara langsung.

Studi yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) ini melatih peserta untuk mengenali wajah buatan AI melalui pengamatan terhadap kesan visual secara menyeluruh. Hasilnya, akurasi peserta dilaporkan meningkat hingga hampir dua kali lipat, dengan sebagian peserta berperforma terbaik mencapai tingkat akurasi yang disebut mendekati sempurna.

Penelitian ini hadir di tengah lonjakan deepfake yang sangat pesat. Dilansir Gizmodo, volume deepfake online meningkat tajam dari 2023 hingga 2025 dengan pertumbuhan sekitar 900 persen per tahun, seiring semakin canggihnya kemampuan generator gambar AI. Sejumlah studi sebelumnya bahkan menemukan kemampuan manusia dalam membedakan konten AI dan asli masih nyaris setara dengan menebak secara acak.

Selama ini, cara umum mendeteksi gambar buatan AI adalah dengan mencari kesalahan visual seperti latar belakang yang berubah bentuk, anatomi tubuh yang tidak wajar, atau jumlah jari yang salah. Namun, petunjuk semacam itu semakin tidak bisa diandalkan karena generator gambar AI terus berkembang. Perangkat pendeteksi AI komersial pun dinilai belum sempurna karena masih dapat menghasilkan false positive, dan sebagian alat tersebut juga menggunakan AI sehingga alasan di balik kesimpulannya tidak selalu dapat diketahui pengguna.

"Kurangnya jawaban berbasis AI untuk masalah deepfake, kita sangat perlu meningkatkan kemampuan manusia dalam mendeteksi AI," tulis peneliti dari Emotions and Faces Lab ANU dalam studi tersebut.

Para peneliti kemudian mencoba pendekatan berbeda dengan mengalihkan perhatian dari detail kecil menuju apa yang mereka sebut sebagai global impressions atau kesan keseluruhan. Ada enam karakteristik yang menjadi fokus, yakni simetri, proporsionalitas, daya tarik, ekspresivitas, keunikan, dan kemudahan wajah untuk diingat.

Generator AI disebut tak menciptakan wajah dari nol. Model tersebut dilatih menggunakan kumpulan data sangat besar dan menghasilkan wajah berdasarkan pola dari banyak wajah yang dipelajari. Menurut studi, ketika menghasilkan wajah manusia, AI bergantung pada semacam rata-rata matematis dari puluhan ribu wajah dalam data pelatihannya. Akibatnya, wajah buatan AI cenderung terlihat lebih "tipikal" dibandingkan wajah manusia asli.

Peneliti menemukan orang sebenarnya memiliki sensitivitas intuitif terhadap perbedaan tersebut, meski belum tentu bisa langsung menggunakannya untuk mendeteksi deepfake dengan akurat. "Orang secara otomatis mendeteksi perbedaan ini, menilai wajah AI lebih simetris, proporsional, dan menarik dibandingkan wajah manusia, tetapi kurang khas, kurang mudah diingat, dan kurang ekspresif," tulis para peneliti.

Dengan kata lain, wajah buatan AI dalam penelitian cenderung tampak lebih simetris dan proporsional, sementara wajah manusia asli dinilai lebih ekspresif, khas, dan mudah diingat. Temuan ini membuka peluang bagi peningkatan literasi visual masyarakat dalam menghadapi derasnya konten AI di media sosial.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0