Vatikan Bangun Pembangkit Surya Rp2 Triliun, Listrik Italia Ikut Kebagian

Vatikan akan membangun pembangkit listrik tenaga surya senilai sekitar 100 juta euro (Rp2,05 triliun) dengan sistem agrivoltaik di Santa Maria di Galeria. Berkapasitas 90 megawatt, proyek ini ditargetkan memenuhi kebutuhan listrik Vatikan dan surplusnya dialirkan ke Italia. Proyek ini merupakan prioritas mendiang Paus Fransiskus dan didukung Paus Leo XIV.

Oct 2, 2026 - 00:03
Oct 2, 2026 - 00:03
 0
Vatikan Bangun Pembangkit Surya Rp2 Triliun, Listrik Italia Ikut Kebagian
Vatikan Bangun Pembangkit Surya Rp2 Triliun, Listrik Italia Ikut Kebagian

Vatikan berencana membangun pembangkit listrik tenaga surya dengan nilai investasi sekitar 100 juta euro atau setara Rp2,05 triliun. Proyek ini menggunakan sistem agrivoltaik, yakni teknologi yang memanfaatkan lahan perkebunan untuk panel surya tanpa mengganggu pertumbuhan tanaman di bawahnya.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya Vatikan mewujudkan kemandirian energi. Selama ini, negara terkecil di dunia tersebut masih bergantung pada pasokan listrik dari Italia. Takhta Suci dan pemerintah Italia pun telah menandatangani perjanjian bilateral untuk pengembangan kawasan Santa Maria di Galeria sebagai lokasi pembangkit listrik agrivoltaik.

Dilansir dari Reuters, kapasitas pembangkit ini diperkirakan mencapai 90 megawatt, menjadikannya salah satu instalasi agrivoltaik terbesar di Italia. Dengan populasi Vatikan yang tidak lebih dari seribu jiwa, produksi listrik tersebut dinilai mampu mencukupi kebutuhan seluruh negara.

Panel surya akan dipasang beberapa meter di atas tanah sehingga tanaman tetap bisa tumbuh di bawahnya. Bayangan panel juga disebut membantu mengurangi penguapan dan melindungi tanaman dari cuaca ekstrem. Sementara itu, kelebihan listrik yang dihasilkan akan dialirkan ke Italia, sehingga proyek ini dinilai menguntungkan kedua belah pihak.

Perwakilan Italia dan Vatikan bertemu pada awal Agustus lalu untuk meluncurkan proyek ini, setelah Italia resmi meratifikasi perjanjian bilateral pengembangan kawasan Santa Maria di Galeria. Meski demikian, belum ada angka pasti mengenai rincian biaya, kapasitas final, maupun jangka waktu proyek pascapertemuan tersebut.

Sejumlah sumber menyebutkan bahwa proses perizinan, prosedur administratif, dan pembangunan dapat memakan waktu 18 hingga 24 bulan. Hingga berita ini diturunkan, Vatikan belum memberikan tanggapan resmi terkait proyek tersebut.

Proyek energi surya ini disebut sebagai prioritas mendiang Paus Fransiskus, paus pertama yang secara resmi mendukung pandangan ilmiah mengenai perubahan iklim. Selain itu, proyek ini juga mendapat dukungan dari Paus Leo XIV.

Upaya transisi energi serupa juga dilakukan sejumlah negara lain. Di Amerika Serikat, beberapa negara bagian dilaporkan menghasilkan listrik dari tenaga surya lebih banyak dibanding batu bara atau gas alam. Kota Babcock Ranch di Florida bahkan telah sepenuhnya bertenaga surya sejak 2016 dan dijuluki sebagai kota paling berkelanjutan di dunia. Sementara itu, pada 2025, Uni Eropa disebut telah menghasilkan 30 persen listriknya dari angin dan matahari.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0