Status Siaga Anak Krakatau Meningkat, Menkomdigi Ingatkan Warga Saring Informasi Sebelum Dibagikan

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid meminta masyarakat tetap tenang namun waspada di tengah meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berstatus Siaga. Ia menekankan pentingnya memverifikasi informasi dari sumber resmi seperti PVMBG, BMKG, dan BNPB, serta mengimbau warga tidak menyebarkan hoaks yang dapat memicu kepanikan.

Oct 2, 2026 - 16:02
Oct 2, 2026 - 16:02
 0
Status Siaga Anak Krakatau Meningkat, Menkomdigi Ingatkan Warga Saring Informasi Sebelum Dibagikan
Status Siaga Anak Krakatau Meningkat, Menkomdigi Ingatkan Warga Saring Informasi Sebelum Dibagikan

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya dan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi menyusul meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK). Menurutnya, situasi seperti ini rentan memunculkan misinformasi yang bisa memicu keresahan di tengah masyarakat.

"Yang paling penting adalah tetap tenang, tetapi jangan mengurangi kewaspadaan. Masyarakat perlu mengikuti arahan dari otoritas terkait dan memastikan informasi yang diterima berasal dari sumber yang dapat dipercaya," ujar Meutya dalam keterangannya, Minggu (6/9).

Gunung Anak Krakatau diketahui menunjukkan aktivitas signifikan sejak Jumat (4/9) malam dan kini berstatus Level III atau Siaga. Abu vulkanik dilaporkan menyebar ke sejumlah wilayah, mulai dari Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu. Dampaknya pun dirasakan pada sektor penerbangan dan memunculkan kekhawatiran warga akan potensi tsunami. Dentuman serta getaran yang sempat terasa di sebagian wilayah Jawa Barat turut menambah kecemasan masyarakat.

Meutya meminta publik memantau perkembangan aktivitas Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik melalui kanal resmi seperti PVMBG, BMKG, BNPB, pemerintah daerah, serta instansi terkait lainnya. "Pastikan keakuratan informasi dari pihak-pihak yang memiliki kewenangan terkait kebencanaan gunung berapi demi menghindari misinformasi atau misleading yang dapat menyebabkan keresahan," tuturnya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak meneruskan informasi yang belum jelas kebenarannya. "Dalam situasi seperti ini, informasi yang tidak benar dapat menimbulkan kepanikan. Karena itu, saring sebelum sharing. Pastikan informasi yang kita terima berasal dari sumber resmi dan dapat dipertanggungjawabkan," kata Meutya.

Selain soal hoaks, Meutya menyampaikan sejumlah langkah perlindungan bagi warga di wilayah terdampak abu vulkanik. Masyarakat disarankan memakai masker N95 atau KN95 saat harus beraktivitas di luar rumah agar partikel abu tersaring. Penggunaan kacamata pelindung juga dianjurkan, sementara lensa kontak atau softlens sebaiknya dihindari selama kondisi udara masih terpengaruh abu vulkanik. Aktivitas di ruang terbuka pun diminta dikurangi jika tidak ada keperluan mendesak.

Bagi pengendara, Meutya meminta kecepatan dikurangi dan kewaspadaan ditingkatkan karena abu vulkanik dapat menurunkan jarak pandang dan membuat jalan lebih licin. Warga juga diimbau mencuci tangan dan wajah setelah beraktivitas di luar ruangan serta memastikan sumber air bersih terlindungi dari paparan abu.

Meutya turut mengimbau masyarakat, wisatawan, dan nelayan agar tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif, sesuai rekomendasi PVMBG. "Keselamatan adalah yang utama. Tidak perlu panik, namun tetap selalu waspada dan menjaga keselamatan serta kesehatan," pungkasnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0