Pakar UGM Jelaskan Mengapa 6 Gunung Api di Indonesia Meletus Hampir Bersamaan

Enam gunung api di Indonesia erupsi hampir bersamaan pada awal September 2026, yakni Anak Krakatau, Semeru, Ili Lewotolok, Ibu, Lewotobi Laki-laki, dan Sinabung. Pakar UGM Indranova Suhendro menilai fenomena ini terjadi karena pertemuan siklus aktivitas masing-masing gunung, bukan karena satu sistem magma yang saling memicu. Badan Geologi menyebut erupsi serentak sebagai aktivitas vulkanis alami di kawasan Cincin Api Pasifik.

Oct 3, 2026 - 16:02
Oct 3, 2026 - 16:02
 0
Pakar UGM Jelaskan Mengapa 6 Gunung Api di Indonesia Meletus Hampir Bersamaan
Pakar UGM Jelaskan Mengapa 6 Gunung Api di Indonesia Meletus Hampir Bersamaan

Sejumlah gunung api di Indonesia tercatat mengalami erupsi dalam rentang waktu yang berdekatan pada awal September 2026. Gunung-gunung tersebut adalah Anak Krakatau, Semeru, Ili Lewotolok, Ibu, Lewotobi Laki-laki, dan Sinabung. Fenomena ini dinilai tidak biasa karena kejadian serupa jarang ditemukan dalam beberapa dekade terakhir.

Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Indranova Suhendro menjelaskan bahwa setiap gunung api memiliki karakteristik dan siklus aktivitasnya sendiri. Menurutnya, kesamaan waktu erupsi lebih tepat dipahami sebagai pertemuan siklus aktivitas yang berbeda, bukan sebagai tanda adanya satu sistem vulkanik yang sama.

Indranova menyebut ada gunung dengan frekuensi erupsi tinggi seperti Semeru dan Anak Krakatau, sementara gunung lain memiliki periode istirahat lebih panjang sebelum kembali aktif. Ketika siklus-siklus itu beririsan pada satu periode, sejumlah gunung api dapat terlihat aktif secara bersamaan. "Menurut saya ini lebih ke masalah timing," kata Indranova, melansir laman resmi UGM, Selasa (8/9).

Meski Indonesia memiliki jalur subduksi yang sama, hal itu tidak otomatis menunjukkan hubungan langsung antarsistem magma. Setiap gunung memiliki sistem magma yang bekerja secara lokal, sehingga erupsi pada satu gunung tidak serta-merta memicu gunung lainnya. Kemungkinan keterkaitan lebih terbuka pada gunung-gunung yang lokasinya berdekatan, sedangkan gunung yang erupsi saat ini tersebar di Sumatera, Jawa, Selat Sunda, Nusa Tenggara, dan Maluku.

"Saat ini gunung-gunung yang mengalami erupsi berada pada posisi yang sangat jauh antar yang satu dengan yang lain, sehingga untuk membangkitkan satu sama lain itu nyaris tidak mungkin," jelasnya.

Perbedaan sistem itu tercermin pada mekanisme erupsi masing-masing gunung. Pada Sinabung, Ibu, dan Semeru, panas dari magma di bawah gunung memanaskan air yang tersimpan di tubuh gunung sehingga tekanan meningkat dan memicu erupsi freatik, tanpa selalu disertai kenaikan aktivitas kegempaan vulkanik. Mekanisme itu berbeda dengan erupsi magmatik pada Anak Krakatau yang berkaitan dengan magma berkandungan gas tinggi, yang oleh Indranova diibaratkan seperti minuman bersoda karena sifatnya eksplosif akibat nukleasi gas secara masif.

Indranova juga menyoroti kemungkinan pengaruh faktor luar sistem gunung api. Ia mencontohkan peningkatan aktivitas kegempaan vulkanik di Lewotobi Laki-laki dan Ile Lewotolok setelah gempa Flores yang kemudian diikuti aktivitas erupsi. Menurutnya, guncangan gempa dapat memengaruhi gas yang terlarut dalam magma, meski mekanisme tersebut belum dapat dipastikan berlaku pada seluruh gunung api. "Bukti bahwa gejala aktivitas kegempaan vulkanik pada Gunung Lewotolok dan Lewotobi Laki-laki meningkat drastis pascagempa menjadi penanda kuat bahwa mereka dibangunkan oleh aktivitas kegempaan Flores," ungkap dia.

Sementara itu, Badan Geologi melalui unggahan di Instagram menyatakan erupsi bersamaan gunung api di Indonesia bukan hal aneh. Indonesia berada di kawasan Pacific Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik dan memiliki banyak gunung api aktif, sehingga beberapa gunung dapat erupsi pada hari yang sama secara alami. "Ini tidak otomatis berarti ada satu fenomena besar yang menghubungkan semuanya," kata Badan Geologi.

Badan Geologi menegaskan masing-masing gunung api memiliki karakteristik berbeda dan erupsi merupakan aktivitas rutin, meski tidak selalu berskala besar. Karena itu, erupsi beberapa gunung api pada hari yang sama dinilai sebagai aktivitas vulkanis yang alami dan tidak saling memicu satu sama lain.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0