Matahari Tampak Memerah di Medan, BMKG Ungkap Penyebab Sebenarnya

Fenomena Matahari tampak berwarna merah di Kota Medan pada Minggu (6/9) dijelaskan BMKG Sumatera Utara sebagai efek optik atmosfer, bukan perubahan warna Matahari. Partikel aerosol, debu, dan asap menghamburkan cahaya biru sehingga warna merah lebih dominan, diperkuat kondisi haze dan udara lembap. BMKG mengimbau masyarakat tidak panik.

Oct 4, 2026 - 04:02
Oct 4, 2026 - 04:02
 0
Matahari Tampak Memerah di Medan, BMKG Ungkap Penyebab Sebenarnya
Matahari Tampak Memerah di Medan, BMKG Ungkap Penyebab Sebenarnya

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan terkait fenomena Matahari yang terlihat berwarna merah di Kota Medan, Sumatera Utara, pada Minggu (6/9). Menurut BMKG Sumatera Utara, warna merah tersebut bukan berarti Matahari benar-benar berubah warna, melainkan akibat efek optik yang terjadi di atmosfer.

"Fenomena Matahari tampak merah yang terlihat masyarakat Medan kemarin pada dasarnya merupakan efek optik atmosfer," tulis BMKG Sumatera Utara dalam unggahan Instagram, Senin (7/9).

BMKG menjelaskan, cahaya Matahari mengalami proses hamburan dan penyaringan oleh kondisi atmosfer sebelum sampai ke mata pengamat. Partikel di atmosfer seperti aerosol, debu, maupun asap berperan dalam memengaruhi perambatan cahaya Matahari. Partikel-partikel itu membuat cahaya biru lebih banyak dihamburkan, sehingga cahaya yang sampai ke mata lebih didominasi warna merah atau jingga.

Efek tersebut semakin terlihat ketika posisi Matahari masih rendah, seperti pada pagi atau sore hari. Untuk kondisi di Sumatera Utara, khususnya Medan saat itu, BMKG menduga keberadaan aerosol di atmosfer menjadi salah satu faktor yang memperkuat warna kemerahan tersebut. BMKG juga mencatat kondisi haze atau udara kabur terjadi di Kota Medan dan sekitarnya pada sore hingga malam hari.

Berdasarkan pengamatan Automatic Solar Radiation Station (ASRS) pada 6 September dari Stasiun Klimatologi Sumatera Utara, intensitas radiasi Matahari atau Global Horizontal Irradiance (GHI) mencapai nilai tertinggi 1.099,7 watt per meter persegi (W/m²) pada pukul 11.49 WIB. Pada saat yang sama, suhu udara tercatat 32,2 derajat Celsius dengan kelembapan udara 71 persen.

BMKG menyebut kondisi itu menunjukkan udara yang panas dan cukup lembap, bukan udara yang kering. Udara yang lembap berarti terdapat cukup banyak uap air. Bersama partikel atau aerosol di atmosfer, kondisi tersebut dapat memengaruhi bagaimana cahaya Matahari dihamburkan.

BMKG menjelaskan GHI merupakan radiasi Matahari yang memperhitungkan seluruh radiasi yang sampai ke sensor. Terkait fenomena ini, BMKG mengimbau masyarakat tidak perlu panik. Namun, apabila udara tampak berkabut atau berasap dan jarak pandang menurun, masyarakat diminta tetap memperhatikan kualitas udara serta informasi resmi dari BMKG dan instansi terkait.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0