Longsor di Himalaya Picu Banjir Bandang Nepal-Tibet, 165 Tewas dan 1.384 Orang Hilang

Banjir bandang di perbatasan Nepal dan Tibet China menewaskan 165 orang, melukai ratusan, dan meninggalkan 1.384 orang hilang. Pakar geofisika Universitas Columbia Goran Ekstrom menyebut bencana dipicu tanah longsor yang meluruhkan gletser Himalaya, menghasilkan energi setara gempa magnitudo 5,2 dengan ketinggian air mencapai 39-48 meter dan kecepatan 71 km per jam.

Oct 1, 2026 - 16:02
Oct 1, 2026 - 16:02
 0
Longsor di Himalaya Picu Banjir Bandang Nepal-Tibet, 165 Tewas dan 1.384 Orang Hilang
Longsor di Himalaya Picu Banjir Bandang Nepal-Tibet, 165 Tewas dan 1.384 Orang Hilang

Bencana banjir bandang yang melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet, China, tercatat sebagai salah satu peristiwa alam paling mematikan dalam beberapa waktu terakhir. Hingga Kamis (27/8), jumlah korban tewas mencapai 165 orang, sementara ratusan lainnya mengalami luka-luka dan 1.384 orang masih dinyatakan hilang.

Penyebab utama bencana ini adalah tanah longsor yang terjadi di celah pegunungan Himalaya pada siang hari. Longsoran tersebut meluruhkan gletser besar di kawasan pegunungan tersebut, memicu aliran air bercampur es dan material reruntuhan yang menghantam kawasan di bawahnya.

Pakar geofisika dari Earth Observatory Universitas Columbia, Goran Ekstrom, mengungkapkan bahwa energi yang dihasilkan dari peristiwa itu sangat besar. Bahkan, getarannya tercatat sebagai gempa berkekuatan magnitudo 5,2 pada seismograf di berbagai belahan dunia.

Menurut Ekstrom, bebatuan besar yang meluncur dari pegunungan melepaskan energi luar biasa yang kemudian memicu peningkatan suhu dan mencairkan gletser. Hal ini diduga menjadi penyebab besarnya volume air yang mengalir deras hingga mencapai kaki gunung.

Ekstrom memperkirakan ketinggian air banjir tersebut luar biasa tinggi akibat campuran es, material reruntuhan, dan air yang meluncur cepat ke lembah. Ketinggian air dilaporkan mencapai 130 hingga 160 kaki atau sekitar 39 hingga 48 meter, dengan kecepatan aliran diperkirakan mencapai 44 mil per jam atau sekitar 71 kilometer per jam.

Meski peristiwa serupa pernah terjadi di Himalaya, Ekstrom menilai kejadian kali ini merupakan peristiwa geofisika berskala masif yang berdampak sangat mematikan. Ia juga menyoroti peran perubahan iklim yang kemungkinan turut memperparah bencana.

Perubahan iklim mempercepat pencairan es dan gletser di berbagai wilayah dunia. Menurut Ekstrom, banjir bandang seperti ini tetap dapat terjadi tanpa perubahan iklim, namun pencairan gletser yang semakin cepat dapat meningkatkan dampak ketika tanah longsor terjadi.

"Secara umum, tanah longsor di wilayah pegunungan ini semakin sering terjadi, hal ini telah dipastikan, dan kejadian tersebut berkaitan dengan mencairnya gletser," kata Ekstrom.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0