Korsel Tegaskan Tak Kapok Usai Proyek Jet KF-21 Bersama RI Sempat Molor
Korea Selatan menegaskan perubahan skema proyek jet tempur KF-21/IF-X tidak membuatnya berhenti bekerja sama dengan Indonesia. Kedua negara disebut telah melewati berbagai kendala pembiayaan dan insiden, lalu menyelesaikannya lewat kesepakatan bersama. Fase pengembangan bersama pun dinyatakan rampung, meski bentuk kerja sama berikutnya masih dibahas.
Korea Selatan memastikan perubahan skema kerja sama pesawat tempur KF-21/IF-X tidak membuat mereka menghentikan kerja sama pertahanan dengan Indonesia. Political Section Chief Kedutaan Besar Korea Selatan, Uhm Taeho, menyatakan kedua negara sempat menghadapi sejumlah kendala dalam proyek pengembangan bersama tersebut, tetapi berhasil menyelesaikannya melalui kesepakatan bersama.
"Kalau Anda bertanya kepada saya, apakah itu akan menghalangi kerja sama Korea dengan Indonesia ke depan? Saya akan mengatakan tidak, justru sebaliknya," kata Uhm dalam workshop Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea (IKJN) di Jakarta Pusat, Rabu (26/8).
Menurut Uhm, berbagai persoalan yang muncul selama proyek KF-21 justru menjadi pengalaman berharga bagi kedua negara untuk membangun hubungan yang dilandasi kepercayaan. Proyek KF-21 Boramae merupakan jet tempur generasi 4,5 yang semula menggunakan skema kontribusi pembiayaan 60 persen dari Seoul dan 40 persen dari Jakarta. Proyek yang disepakati Indonesia sejak 2010 itu sempat molor, terutama terkait masalah pembiayaan hingga beberapa insiden. Nilai proyek semula mencapai 8,1 triliun won atau setara Rp100 triliun dan ditargetkan rampung pada tahun ini.
"Kami telah melalui berbagai kendala dalam proyek ini. Ini merupakan aset yang sangat berharga bagi kami karena kami telah melalui semua itu dan mampu keluar darinya dalam kemitraan yang saling percaya," ujar Uhm. Ia menilai hal itu menjadi contoh yang baik dan Korea Selatan senang dengan hasil proyek pengembangan bersama tersebut.
Uhm menyebut kerja sama KF-21 merupakan proyek pengembangan bersama pertama yang dilakukan Korea Selatan, dengan Indonesia sebagai mitra pertama dalam pengembangan sistem persenjataan. "Indonesia benar-benar merupakan mitra penting dalam menciptakan dan mengembangkan industri pertahanan Korea. Sejarah kerja sama kedua negara di bidang pertahanan sangat luar biasa. KT-1 dan semuanya merupakan yang pertama bagi Korea," katanya. Ia menegaskan kerja sama ini bukan sekadar Indonesia membeli senjata Korea, melainkan Korea menerima Indonesia sebagai mitra pengembangan bersama.
Saat ini, kerja sama KF-21/IF-X disebut telah memasuki kesimpulan fase pengembangan bersama. Uhm bahkan menyoroti pesawat tersebut memiliki dua bendera nasional sebagai simbol keterlibatan kedua negara. "Kalau Anda melihat KF-21, pesawat itu memiliki dua bendera nasional. Tidak ada sistem persenjataan lain di Korea yang memiliki dua bendera nasional pada sebuah senjata," ujarnya. Fase pengembangan bersama itu berhasil diselesaikan pada bulan sebelumnya, ditandai seremoni bersama pejabat Kementerian Pertahanan RI.
Meski demikian, bentuk kerja sama pertahanan berikutnya belum ditentukan. Kedua negara masih melakukan pembahasan antara kementerian pertahanan dan kementerian luar negeri masing-masing. "Ketika kita berbicara mengenai langkah selanjutnya, jika kita puas dengan hasil investasi Indonesia, investasi Korea, dan kemitraan yang kita miliki, saya pikir kita akan memasuki tahap berikutnya. Namun, kami masih dalam proses pembahasan mengenai bentuk spesifik dari tahap kerja sama berikutnya," kata Uhm. Ia menilai terlalu dini membeberkan bentuk konkret kerja sama lanjutan karena proyek pertahanan berskala besar perlu mempertimbangkan kondisi ekonomi domestik maupun internasional.
Perubahan skema KF-21/IF-X sebelumnya menjadi sorotan. Indonesia semula terlibat dalam skema pengembangan dan produksi bersama, tetapi pemerintah kemudian memilih skema pengadaan langsung. Kementerian Pertahanan menyatakan perubahan itu merupakan hasil evaluasi internal untuk memastikan kerja sama memberi manfaat optimal bagi Indonesia, terutama dalam alih teknologi dan penguatan industri pertahanan nasional, serta tidak terkait isu lain yang berkembang di publik. Uhm mengakui proyek KF-21 sempat mengalami kendala yang berdampak terhadap hubungan kedua negara. "Kami memang mengalami beberapa kendala, kita semua tahu itu. Itu merupakan salah satu faktor yang benar-benar sempat menyeret hubungan kita," katanya. Namun, ia menegaskan kedua negara mampu mengatasinya melalui kesepakatan bersama dan penyesuaian ketentuan proyek.
Dari sisi Indonesia, Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, menyebut kerja sama industri pertahanan sebagai bagian penting hubungan bilateral Indonesia-Korea. Kerja sama itu tidak hanya mencakup KF-21/IF-X, tetapi juga kapal selam serta pertemuan rutin pelaku industri pertahanan kedua negara, baik perusahaan milik negara maupun swasta. Nabyl mengakui ada perubahan prioritas di Indonesia maupun Korea Selatan sepanjang pelaksanaan kerja sama, tetapi kedua negara akhirnya mencapai tujuan akhir proyek pengembangan KF-21 pada tahun ini.
Direktur Divisi Asia Tenggara 1 Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, Mina Ryu, menambahkan kerja sama pertahanan kedua negara berkembang sejak hubungan strategis diperluas. Indonesia membeli pesawat latih dasar KT-1 Korea pada 2001 dan menjadi mitra ekspor pertahanan pertama Korea Selatan. Kesepakatan pengembangan KF-21 dibuat pada 2010 dan proyek dimulai pada 2016, berlangsung selama 10 tahun, serta disebut selesai pada Juni 2026. Pada 29 Juli, Korea Defense Acquisition Program Administration (DAPA) dan Kementerian Pertahanan RI menggelar acara bersama untuk merayakan penyelesaian proyek tersebut. "Partisipasi Indonesia merupakan bagian penting dalam mewujudkan KF-21 yang ada saat ini. Proyek tersebut merupakan pencapaian dari kolaborasi bilateral," kata Mina.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0