Harga Minyak Dunia Kompak Melemah, Brent Cs Terjun ke US$89 dan Tren Dua Pekan Berakhir

Harga minyak mentah dunia melemah pada perdagangan Jumat (28/8). Brent turun 0,3 persen ke US$89,45 per barel dan WTI terkoreksi 0,3 persen ke US$83,31 per barel. Secara mingguan, Brent merosot 5,3 persen dan WTI melemah 4,3 persen, berpotensi mengakhiri tren kenaikan dua pekan berturut-turut. Penurunan terjadi di tengah sikap keras AS terhadap Iran dan eskalasi geopolitik di Eropa Timur.

Sep 30, 2026 - 08:03
Sep 30, 2026 - 08:03
 0
Harga Minyak Dunia Kompak Melemah, Brent Cs Terjun ke US$89 dan Tren Dua Pekan Berakhir
Harga Minyak Dunia Kompak Melemah, Brent Cs Terjun ke US$89 dan Tren Dua Pekan Berakhir

Harga minyak mentah dunia kembali melemah pada perdagangan Jumat (28/8) dan berada di jalur mengakhiri tren kenaikan selama dua pekan berturut-turut. Mengutip Reuters, minyak mentah berjangka jenis Brent turun 25 sen atau 0,3 persen ke level US$89,45 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 22 sen atau 0,3 persen ke posisi US$83,31 per barel.

Secara mingguan, kedua patokan harga minyak tersebut berpotensi menutup pekan di zona merah. Brent tercatat merosot 5,3 persen, sementara WTI melemah 4,3 persen.

Penurunan harga minyak terjadi setelah sebelumnya sempat ditutup menguat. Penguatan saat itu terdorong kabar Presiden AS Donald Trump yang enggan kembali ke ketentuan kesepakatan awal dengan Iran.

Laporan Wall Street Journal menyebutkan pemerintahan Trump berulang kali menegaskan kepada pihak mediator bahwa AS tidak berminat menghidupkan kembali nota kesepahaman yang disepakati pada Juni lalu. Keputusan Trump ini dinilai mengganjal langkah diplomatik untuk memulai kembali perundingan.

Pemerintah AS juga menegaskan tidak sedang menggelar dialog dengan Iran di tengah upaya berbagai negara mendekatkan kembali kedua belah pihak, pada Kamis (27/8). Langkah tegas Washington berlanjut usai awal pekan lalu AS mengumumkan sanksi yang diklaim sebagai 'sanksi terberat dalam sejarah' terhadap Iran.

Di sisi lain, pemerintah Teheran mengecam sanksi tersebut sebagai tindakan tidak manusiawi dan bermusuhan yang tak lagi efektif.

Pasar juga terus mencermati peningkatan eskalasi geopolitik di Eropa Timur. Rusia mengancam bakal menyerang target militer Inggris, baik di dalam maupun di luar wilayah Ukraina. Ancaman Moskow tersebut merupakan balasan atas serangan Ukraina ke wilayah Rusia menggunakan rudal jelajah jarak jauh pasokan Inggris.

Kendati demikian, Trump menilai Presiden Rusia Vladimir Putin tidak akan menyerang negara anggota NATO. Ia juga meremehkan laporan media terkait peringatan Direktur CIA John Ratcliffe kepada pejabat Rusia mengenai potensi serangan tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0