Gas SO2 Erupsi Anak Krakatau Capai Banten hingga Lampung, Badan Geologi Ungkap Kapan Warga Perlu Waspada
Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan sebaran gas sulfur dioksida (SO2) dari erupsi Gunung Anak Krakatau telah mencapai Banten, Jabodetabek, dan Lampung. Warga diminta tidak panik selama bau belerang tidak tercium, namun tetap waspada dengan memakai masker dan menghindari air hujan jika bau menyengat muncul.
Badan Geologi Kementerian ESDM mengonfirmasi bahwa warna merah pada peta satelit menunjukkan sebaran gas sulfur dioksida (SO2) dari erupsi Gunung Anak Krakatau telah mencapai wilayah Banten, Jabodetabek, dan Lampung. Kendati demikian, masyarakat diminta tidak perlu cemas selama bau menyengat seperti belerang tidak tercium di lingkungan sekitar.
Badan Geologi menjelaskan bahwa peta satelit SO2 tidak otomatis menandakan udara di suatu wilayah berbahaya. Citra tersebut merekam jumlah SO2 di seluruh kolom atmosfer pada ketinggian tertentu, bukan konsentrasi gas di permukaan yang dihirup masyarakat sehari-hari. Menurut Badan Geologi, bahaya SO2 sangat bergantung pada tingkat ketinggiannya di troposfer, karena jika berada di lapisan tertentu, gas tersebut tidak langsung terhirup oleh warga.
Meski begitu, jika bau SO2 yang menyerupai belerang mulai tercium, masyarakat diimbau segera menggunakan masker, tetap berada di dalam ruangan, dan tidak meminum air hujan karena berbahaya bagi tubuh. Badan Geologi menyebut konsentrasi SO2 di bawah 5 ppm masih aman bagi kesehatan. Namun, jika melebihi batas normal, gas ini dapat memicu batuk, sesak napas, iritasi mata, serta iritasi saluran napas dan paru.
Sulfur dioksida merupakan salah satu spesies dari gas-gas oksida sulfur (SOx) yang berbau tajam, tidak berwarna, dan mudah larut dalam air. Gas ini terbentuk saat terjadi pembakaran bahan bakar fosil yang mengandung sulfur. Sulfur sendiri terdapat dalam hampir semua material mentah yang belum diolah, seperti minyak mentah, batu bara, dan bijih-bijih yang mengandung metal seperti aluminium, tembaga, seng, timbal, dan besi.
Mengutip Global Atmosphere Watch, gas SO2 telah lama dikenal sebagai penyebab iritasi pada sistem pernapasan, termasuk selaput lendir hidung, tenggorokan, dan saluran udara di paru-paru. Efek kesehatan ini bisa lebih buruk pada penderita asma. Selain itu, SO2 yang terkonversi di udara menjadi pencemar sekunder seperti aerosol sulfat. Aerosol ini umumnya berukuran sangat halus sehingga dapat terhisap ke dalam sistem pernapasan bawah dan berpotensi menimbulkan dampak kesehatan lebih berat karena bersifat korosif dan karsinogenik.
Kadar SO2 yang tinggi di udara juga menjadi salah satu penyebab hujan asam. Hujan asam terjadi karena belerang yang merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut, lalu jatuh bersama air hujan. Air hujan tersebut kemudian meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan ikan dan tanaman.
Kelebihan zat asam pada danau akan mengakibatkan sedikitnya spesies yang mampu bertahan. Plankton dan invertebrata menjadi makhluk yang paling pertama mati akibat pengaruh pengasaman tersebut. Sulfur dioksida juga berbahaya bagi tanaman. Gas SO2 dengan konsentrasi tinggi dapat membunuh jaringan pada daun, pinggiran daun, dan daerah di antara tulang-tulang daun rusak. Kerusakan tanaman ini akan diperparah dengan kenaikan kelembaban udara.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0