Enam Bulan Tak Terlihat, Kepemimpinan Mojtaba Khamenei di Iran Mulai Dipertanyakan
Mojtaba Khamenei belum muncul ke publik sejak menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan AS-Israel pada Februari lalu. Ketiadaannya selama enam bulan memicu keraguan, bahkan dari kalangan pendukung garis keras Iran, soal siapa yang sebenarnya menjalankan pemerintahan.
Pertanyaan soal sosok Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei kian menguat. Enam bulan setelah menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan Amerika Serikat-Israel pada Februari lalu, ia belum sekali pun muncul di hadapan publik Iran.
Tidak ada foto, video, maupun pesan suara yang dirilis sejak ia diangkat sekitar sepekan setelah perang dimulai. Kondisi itu memunculkan kekosongan di pusat kepemimpinan negara dan membuat pertanyaan soal perannya di pemerintahan semakin rumit.
Keraguan tidak hanya datang dari kalangan penentang. Seorang anggota milisi sukarelawan Basij di Qom, kota pusat pendidikan agama Syiah, mengaku membutuhkan suara atau tanda apa pun bahwa pemimpinnya masih berada di pucuk pimpinan. Anggota yang meminta namanya dirahasiakan karena membahas isu sensitif itu meyakini Khamenei masih mengambil keputusan penting, tetapi menilai ketiadaan satu foto pun merusak moral dan tidak menguntungkan Iran.
Di kalangan warga yang menginginkan reformasi luas, nada kritiknya lebih keras. Shahrokh, seorang pengusaha pro-reformasi di Teheran yang juga meminta identitasnya dirahasiakan, mempertanyakan bagaimana publik bisa tahu bahwa Mojtaba belum terbunuh. Menurut dia, tidak masuk akal jika tidak ada satu pun tanda yang membuktikan Khamenei masih hidup, apalagi bukti keterlibatannya dalam pengambilan keputusan.
Para pejabat Iran dan sejumlah sumber senior menegaskan Mojtaba Khamenei masih memegang kendali. Ia disebut memimpin dari balik layar demi alasan keamanan sekaligus memulihkan diri dari luka-luka yang mengubah wajahnya usai selamat dari serangan udara AS-Israel. Sebagian besar kewenangan sehari-hari didelegasikan kepada sekelompok tokoh penting.
Meski begitu, skeptisisme publik terus tumbuh di Republik Islam yang menempatkan suara pemimpin sebagai hal mutlak. Alex Vatanka dari Middle East Institute di Washington menilai pertanyaannya kini bukan lagi apakah Mojtaba masih hidup, melainkan apakah Iran masih memiliki pemimpin tertinggi yang benar-benar menjalankan pemerintahan.
Satu-satunya pesan Khamenei kepada rakyat Iran sejauh ini disampaikan melalui sejumlah pernyataan tertulis yang dibacakan penyiar berita. Ia bahkan tidak hadir dalam rangkaian upacara pemakaman ayahnya selama kurang lebih sepekan pada Juli lalu.
Para pejabat senior dan orang dalam pemerintahan menyebut ketidakhadiran Khamenei disebabkan kekhawatiran akan upaya pembunuhan. Kendati demikian, mereka mengklaim Khamenei tetap rutin mengadakan pertemuan dengan tokoh senior, menerima seluruh laporan penting, dan mengambil keputusan akhir atas setiap persoalan utama. Presiden Masoud Pezeshkian bahkan menyatakan telah mengadakan pertemuan selama tujuh jam dengan Khamenei pada 10 Agustus lalu.
Garda Revolusi disebut semakin berpengaruh sejak awal perang dan tetap menjadi pusat pemikiran strategis di tingkat tertinggi dalam sistem pemerintahan yang ditata ulang di sekitar Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Lingkaran elite itu mencakup para komandan senior Garda Revolusi serta tokoh politik seperti Pezeshkian dan Ketua Parlemen Mohammed Baqer Qalibaf.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0