El Nino Bukan Biang Kerok Utama Karhutla, Pakar Ungkap Pemicu Sebenarnya
Guru Besar IPB University, Bambang Hero Saharjo, menegaskan El Nino bukan penyebab utama karhutla, melainkan hanya mempercepat pengeringan biomassa. Ia menyoroti lemahnya pencegahan, minimnya dukungan pemerintah daerah, dan kesiapan korporasi yang dipertanyakan. Sistem peringatan dini seperti FFMC BMKG dan Sipongi dinilai sudah memadai, namun anggaran dan prioritas daerah menjadi kendala.
Jakarta - Fenomena El Nino yang diprediksi berlangsung hingga 2027 kerap dikaitkan dengan meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Namun, Guru Besar Kehutanan IPB University, Bambang Hero Saharjo, menegaskan bahwa El Nino bukanlah biang keladi utama. Menurutnya, karhutla tetap bisa terjadi meski tanpa kehadiran fenomena tersebut.
Bambang menjelaskan, El Nino lebih berperan dalam mempercepat proses pengeringan biomassa di permukaan tanah. Akibatnya, material yang mudah terbakar menjadi lebih banyak dan hanya menunggu sumber api. "Kehadiran El Nino lebih kepada mempercepat proses pengeringan bahan bakar sehingga relatif lebih cepat dan mudah terbakar," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (11/8).
Ia mencontohkan, pada 2025 lalu, asap karhutla dari Riau terpantau mencapai negara tetangga pada 19 Juli, disusul asap dari Kalimantan Barat pada 21 Juli berdasarkan citra satelit Sentinel 2. Peristiwa itu terjadi tanpa El Nino yang signifikan, membuktikan bahwa faktor lain seperti kelalaian dan praktik pembakaran lahan masih dominan.
Bambang menyoroti bahwa pencegahan seharusnya menjadi ujung tombak pengendalian karhutla. Namun, upaya pencegahan oleh masyarakat belum selalu mendapat dukungan signifikan dari pemerintah daerah. Kondisi ini mendorong sebagian masyarakat kembali menggunakan api untuk menyiapkan lahan. Ia juga meragukan kesiapan korporasi dalam menghadapi kebakaran, dan menyarankan audit kepatuhan sebelum musim kemarau tiba.
"Untuk itulah sebelum masuk ke musim kemarau perlu dilakukan audit kepatuhan pengendalian kebakaran, untuk memastikan apakah para korporasi dalam kondisi yang siap menghadapi kebakaran dalam artian yang sesungguhnya atau hanya permainan narasi belaka," tegasnya.
Dampak karhutla pun meluas, tidak hanya merusak lingkungan tetapi juga mengganggu aktivitas manusia. Kabut asap dapat mengganggu jarak pandang di jalan, laut, hingga udara, termasuk penerbangan pesawat pemadam kebakaran. Bambang mencontohkan kejadian di Rokan Hilir pada 2025, di mana pembukaan lahan sekitar 4 hektare dengan api berujung pada area terbakar sekitar 300 hektare. Di Kepulauan Meranti, kebakaran meluas hingga 632 hektare padahal rencana pembukaan lahan hanya 6 hektare.
Meski demikian, Bambang menilai sistem peringatan dini sebenarnya sudah tersedia dan gratis. Parameter Fine Fuel Moisture Code (FFMC) di laman BMKG dapat menunjukkan wilayah yang rawan terbakar, sementara hotspot bisa dipantau melalui Sipongi milik Kementerian Kehutanan dan pergerakan asap melalui aplikasi Wildfire. "Seminggu ke depan kita sudah tahu kapan dan di mana peluang terjadinya kebakaran, bahkan untuk seluruh Indonesia," katanya.
Namun, ia menyayangkan berulangnya karhutla hingga 2026 tidak cukup dilihat dari banyaknya rapat koordinasi. Salah satu kendala utama adalah ketersediaan anggaran yang memadai dan berkesinambungan. "Tidak sedikit kabupaten yang membiarkan kebakaran terjadi karena memang bukan prioritas mereka. Akibatnya terjadi pembiaran yang membuat kebakaran terus berlangsung," pungkasnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0