Dua Akun Instagram Diduga Mobilisasi Pelajar Saat Aksi Rusuh di Bekasi, Polisi Dalami Peran Tiga Pengelolanya

Polres Metro Bekasi Kota mengungkap dua akun Instagram yang diduga dipakai memobilisasi pelajar dalam aksi unjuk rasa berujung kerusuhan. Kedua akun dikelola tiga orang yang masih berstatus pelajar. Polisi mendalami hubungan percakapan di grup media sosial dengan aksi di lapangan, termasuk kemungkinan keterlibatan pihak lain yang mengarahkan, memfasilitasi, hingga mendanai gerakan tersebut.

Oct 2, 2026 - 20:02
Oct 2, 2026 - 20:02
 0
Dua Akun Instagram Diduga Mobilisasi Pelajar Saat Aksi Rusuh di Bekasi, Polisi Dalami Peran Tiga Pengelolanya
Dua Akun Instagram Diduga Mobilisasi Pelajar Saat Aksi Rusuh di Bekasi, Polisi Dalami Peran Tiga Pengelolanya

Kepolisian Resor Metro Bekasi Kota menelusuri dua akun Instagram yang diduga menjadi sarana memobilisasi pelajar dalam aksi unjuk rasa yang berakhir kerusuhan di wilayah tersebut. Penelusuran ini menjadi bagian dari upaya polisi memetakan siapa saja yang berperan dalam menggerakkan massa pelajar.

Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota Kompol Verdika Bagus Prasetya mengungkapkan bahwa kedua akun media sosial itu dikelola oleh tiga orang yang seluruhnya masih berstatus pelajar. Satu akun dipegang oleh dua pelajar, sementara satu akun lainnya dikelola seorang pelajar.

Menurut Verdika, keterangan ketiga pengelola akun tersebut masih dicocokkan dengan data digital guna memperjelas peran masing-masing. Pemeriksaan saksi diarahkan untuk menelusuri keterkaitan antara percakapan di grup media sosial dan aksi nyata di lapangan.

Polisi juga mendalami kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat, mulai dari yang mengarahkan, memfasilitasi, hingga mendanai gerakan tersebut. Pendalaman ini dilakukan untuk memastikan siapa saja yang berada di balik mobilisasi pelajar dalam aksi yang berujung rusuh.

Di sisi lain, Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Pol Putu Kholis Aryana memberi peringatan kepada para alumni maupun pengelola akun media sosial agar tidak memanfaatkan senioritas dan kebanggaan sekolah untuk memprovokasi pelajar masuk ke dalam aksi kekerasan.

"Jangan menjadikan solidaritas sekolah atau loyalitas kepada alumni sebagai tekanan agar pelajar mengikuti ajakan yang membahayakan keselamatan mereka. Penyampaian aspirasi secara damai tentu dihormati, tetapi perusakan dan kekerasan tidak dapat dibenarkan," ujar Putu Kholis.

Ia menegaskan agar para pengelola akun menyadari dampak nyata dari pesan yang diunggah di media sosial. Pengaruh yang dimiliki diharapkan diarahkan untuk mendukung keberlanjutan pendidikan pelajar, bukan menyeret mereka ke ranah hukum.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0