Banjir Bandang Nepal Telan 157 Korban Jiwa, 142 Warga India Dilaporkan Hilang
Banjir bandang yang melanda Nepal sejak Rabu (26/8) menewaskan 157 orang dan meninggalkan 844 orang hilang. Sebanyak 142 warga India menjadi korban hilang terbanyak, sebagian besar peziarah Kailash Mansarovar. Para ahli geofisika menduga peristiwa ini dipicu tanah longsor di Himalaya yang mencairkan gletser dan tercatat sebagai gempa magnitudo 5,2.
Bencana banjir bandang yang menerjang Nepal sejak Rabu (26/8) meninggalkan dampak besar bagi sejumlah negara. Data terbaru menunjukkan 157 orang ditemukan meninggal dunia, sementara 844 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Dari jumlah tersebut, warga negara India tercatat sebagai kelompok korban hilang terbanyak.
Informasi dari Nepal Tourism Board menyebutkan sebanyak 142 warga India dilaporkan hilang dalam peristiwa ini. Laporan Times of India yang mengutip kepolisian Nepal menyebutkan sebagian besar korban asal India merupakan peziarah Kailash Mansarovar. Mereka tengah melintasi wilayah Tibet-Nepal bersama sekitar 400 peziarah lain dari berbagai negara ketika banjir bandang terjadi.
Selain korban dari India, otoritas China melaporkan 265 orang hilang di wilayah Gyirong, Tibet. Proses pencarian dan evakuasi di lapangan berlangsung sulit karena petugas harus menghadapi cuaca buruk, jalanan berlumpur, serta arus sungai yang masih tinggi.
Para ahli geofisika menduga banjir bandang ini berawal dari peristiwa besar di Pegunungan Himalaya. Pakar geofisika dari Earth Observatory Universitas Columbia, Goran Ekstrom, menjelaskan bahwa sebuah tanah longsor terjadi di celah pegunungan pada siang hari dan meluruhkan gletser besar atau sebagian dari gletser di Himalaya.
Menurut Ekstrom, peristiwa tersebut begitu dahsyat hingga tercatat sebagai gempa berkekuatan magnitudo 5,2 pada seismograf di seluruh dunia. Ia menyebut kejadian ini sebagai peristiwa geofisika berskala masif yang memicu banjir bandang sangat mematikan.
Ekstrom menjelaskan bebatuan besar meluncur turun dari pegunungan dan menghasilkan energi luar biasa besar. Energi itu memicu peningkatan suhu yang mencairkan gletser, sehingga volume air yang mengalir ke kaki gunung menjadi sangat besar.
Ia memperkirakan ketinggian air banjir mencapai 130 hingga 160 kaki atau sekitar 39 hingga 48 meter, dengan kecepatan aliran yang mungkin mencapai 44 mil per jam. Air bercampur es dan material rerobohan itu meluncur cepat menuju lembah.
Meski peristiwa serupa pernah terjadi sebelumnya di Himalaya, Ekstrom menilai kejadian kali ini tergolong luar biasa. Ia juga menyoroti bahwa perubahan iklim mempercepat pencairan es dan gletser di seluruh dunia, sehingga tanah longsor di wilayah pegunungan semakin sering terjadi dan berkaitan dengan mencairnya gletser.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0