Asap Karhutla Ganggu 5 Penerbangan, Pesawat ke Pontianak hingga Jambi Terpaksa Kembali dan Dialihkan

JATSC Bandara Soekarno-Hatta mencatat lima penerbangan terganggu akibat asap karhutla. Satu pesawat menuju Pontianak kembali ke Jakarta, penerbangan Palembang-Jambi berbalik arah, dan pesawat menuju Jambi dialihkan ke Batam. Visibility di Palembang, Jambi, dan Pontianak turun sekitar 1.000 meter, sementara Jakarta masih 7.000-8.000 meter.

Oct 4, 2026 - 04:02
Oct 4, 2026 - 04:02
 0
Asap Karhutla Ganggu 5 Penerbangan, Pesawat ke Pontianak hingga Jambi Terpaksa Kembali dan Dialihkan
Asap Karhutla Ganggu 5 Penerbangan, Pesawat ke Pontianak hingga Jambi Terpaksa Kembali dan Dialihkan

Asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali berdampak pada dunia penerbangan. Jakarta Air Traffic Service Control (JATSC) Bandara Internasional Soekarno-Hatta mencatat lima penerbangan menuju Palembang, Jambi, dan Pontianak mengalami gangguan.

Deputy GM Perencanaan dan Evaluasi Operasi JATSC, Raden Triaswanto, mengungkapkan bahwa gangguan tersebut mencakup satu penerbangan menuju Pontianak yang harus kembali ke Jakarta atau return to base (RTB). Selain itu, penerbangan dari Palembang kembali ke Jambi, dan penerbangan dari Jambi dialihkan atau divert ke Batam.

"Ada 5 gangguan, satu RTB menuju Pontianak kembali ke Jakarta, kemudian yang dari Palembang kembali ke Jambi, dan sebaliknya dari Jambi divert ke Batam," ujar Triaswanto, Sabtu (29/8).

Menurut Triaswanto, kondisi jarak pandang atau visibility di sejumlah bandara sempat memunculkan peringatan. Wilayah Jakarta masih tercatat aman dengan visibility mencapai 7.000-8.000 meter. Namun, di wilayah terdampak seperti Palembang, Jambi, dan Pontianak, visibility hanya sekitar 1.000 meter.

Kota Pontianak dan Jambi sendiri telah diselimuti asap tebal karhutla dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini membuat jarak pandang di wilayah tersebut sangat terbatas dan berimbas pada aktivitas penerbangan.

JATSC Bandara Soekarno-Hatta memiliki cakupan wilayah Indonesia region barat, meliputi Sumatra, sebagian wilayah Jawa, dan beberapa wilayah di Kalimantan. Karena itu, pihaknya terus memantau data visibility di setiap bandara untuk menentukan kelayakan Notam terkait aktivitas penerbangan hingga pendaratan.

"Dikeluarkan warning seperti pemberitahuan kepada teman-teman airline bahwa visibility di area tersebut sempat ada yang kurang diperbolehkan. Nantinya untuk pengeluaran Notam layak atau tidak pendaratan atau penerbangan," jelas Triaswanto.

Ia menambahkan, pemantauan terhadap kondisi visibility akibat asap tebal karhutla masih terus dilakukan. Langkah ini dilakukan agar dampak terhadap dunia penerbangan dapat diminimalisir tanpa mengorbankan kenyamanan dan keselamatan penumpang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0