AS Sita Tiga Domain Peretasan, Tuding China Incar NASA hingga The Fed
Departemen Kehakiman AS dan FBI menyita tiga domain internet yang terkait kelompok peretas China bernama QTFY. Kelompok ini dituduh menargetkan NASA, The Fed, Senat, hingga infrastruktur vital seperti perusahaan listrik dan rumah sakit. China membantah terlibat dan menegaskan menentang segala bentuk serangan siber. Tuduhan muncul menjelang kunjungan Xi Jinping ke Washington pada 24 September.
Pemerintah Amerika Serikat kembali melayangkan tuduhan serius terhadap China terkait aktivitas peretasan. Departemen Kehakiman AS bersama Biro Investigasi Federal (FBI) menyatakan telah menyita tiga domain internet yang berkaitan dengan dua platform peretasan yang diduga dioperasikan kelompok peretas asal China. Penyitaan itu diumumkan pada Rabu (26/8).
Kelompok yang dimaksud dikenal dengan nama QTFY. Menurut otoritas AS, kelompok ini menargetkan sejumlah sasaran strategis, mulai dari Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional (NASA), Federal Reserve atau The Fed, Senat, hingga beberapa departemen pemerintah. Tidak hanya itu, mereka juga disebut menyasar infrastruktur vital seperti perusahaan listrik, rumah sakit, perusahaan telekomunikasi, lembaga keuangan, dan kontraktor pertahanan.
Washington menuding operasi peretasan tersebut disponsori oleh pemerintah China. Informasi yang berhasil diperoleh disebut akan diserahkan kepada Kementerian Keamanan Negara dan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Meski demikian, otoritas AS tidak merinci apakah ada data yang benar-benar berhasil dicuri dalam operasi tersebut.
Tuduhan ini mencuat menjelang kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Washington pada 24 September mendatang. Xi Jinping dijadwalkan bertemu Presiden AS Donald Trump untuk membahas sejumlah isu, termasuk perselisihan dagang dan konflik global yang tengah berkembang.
Menanggapi tuduhan tersebut, China membantah keras keterlibatannya. Kedutaan Besar China di Washington menegaskan bahwa pihaknya menentang dan memerangi semua bentuk serangan siber. "Berhenti menggunakan isu keamanan siber untuk mencemarkan nama baik atau mendiskreditkan China," demikian pernyataan Kedutaan Besar China di Washington, seperti dikutip Russia Today.
Tuduhan peretasan ini bukan yang pertama kali muncul. Sekitar sebulan sebelumnya, Trump menuduh Beijing ikut campur dalam pemilihan umum AS. Trump mengeklaim China telah memperoleh secara ilegal data 220 juta pemilih dalam pemilu AS tahun 2020. China pun membantah tuduhan tersebut dan menyebut klaim itu "sepenuhnya dibuat-buat."
Hingga kini, belum ada keterangan lebih lanjut mengenai dampak penyitaan domain tersebut terhadap operasi peretasan yang dituduhkan. Namun, eskalasi ketegangan antara AS dan China semakin terlihat menjelang pertemuan puncak kedua pemimpin negara itu.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0