Super El Nino 2027 Mengintai, Peneliti Peringatkan Krisis Pangan hingga Inflasi
Peneliti memprediksi Super El Nino 2027 dengan peluang 75 persen melampaui rekor sejak 1950-an. Dampaknya meliputi kekeringan, karhutla, krisis pangan, dan inflasi. Indeks Niño 3.4 diperkirakan menembus +3,0 derajat Celcius hingga Februari 2027. Wilayah Kalimantan dan Papua rentan panas serta kebakaran. Peneliti BRIN dan ITB memperingatkan risiko gagal panen dan kenaikan harga beras.
Para peneliti memprediksi El Nino tahun ini berpotensi menjadi salah satu yang terkuat sepanjang sejarah. Kondisi kering dan kemarau berkepanjangan di sebagian wilayah Indonesia dikhawatirkan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga krisis pangan.
Mark Merrifield dari Scripps Institution of Oceanography mengungkapkan bahwa anomali suhu permukaan laut di Pasifik Khatulistiwa tahun ini menunjukkan sinyal kuat menuju fase Super El Nino. Menurutnya, untuk musim Oktober hingga Desember 2026, terdapat peluang sebesar 75 persen bahwa fenomena ini akan menjadi peristiwa bersejarah yang kekuatannya melampaui rekor El Nino sebelumnya sejak tahun 1950-an.
Indeks Niño 3.4 sebagai indikator utama kekuatan El Nino saat ini menunjukkan anomali suhu permukaan laut sebesar positif 0,5 derajat Celcius. Angka ini diperkirakan menembus rata-rata positif 3,0 derajat Celcius hingga Februari 2027.
Peneliti Senior Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, Erma Yulihastin, menyoroti risiko produksi padi dan tekanan panas lingkungan. Kajiannya bersama tim menunjukkan perlunya kewaspadaan jangka panjang dari berbagai pihak. Pengukuran menggunakan indeks suhu bola basah atau Wet Bulb Global Temperature (WGBT) juga mengungkap bahwa wilayah Kalimantan dan Papua sangat rentan terhadap panas serta potensi kebakaran hutan. Berdasarkan simulasi 14 model iklim NASA NEX-GDPP, ancaman kekeringan akibat El Nino diproyeksikan berlanjut hingga periode 2027-2028.
Dampak El Nino tidak hanya pada cuaca panas, tetapi juga gejolak ekonomi. Djoko Santoso Abi Suroso dan Isnan Fauzi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) membandingkan dampak El Nino terhadap inflasi bergejolak dan menemukan potensi kenaikan harga pangan. Mereka menyatakan jika Super El Nino benar terjadi hingga awal 2027, ada potensi pergeseran jadwal tanam pada musim hujan 2026/2027, sehingga jadwal panen terancam dan merambat menjadi persoalan pasokan serta kenaikan harga pangan, khususnya beras.
Berdasarkan perbandingan dampak El Nino terhadap harga beras rata-rata per tahun dengan sampel El Nino 2015-2016 dan 2023-2024, mereka menyimpulkan penurunan produktivitas lahan pertanian akan menekan produksi padi yang akhirnya mengerek naik harga beras di pasaran. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Agustus 2026 secara bulanan sebesar 0,21 persen, disumbang oleh kenaikan harga komoditas pangan seperti daging ayam, ikan, cabai, bawang, dan beras.
Studi Guru Besar Perencanaan Wilayah dan Kota ITB serta Manajer Riset dan Proyek di Pusat Perubahan Iklim ITB juga menemukan bahwa setiap kali indeks Niño3.4 memuncak, inflasi bergejolak ikut naik dalam rentang waktu berdekatan. Semakin kuat El Nino, semakin jelas pola ini. Mereka menjelaskan pola ini konsisten dengan riset internasional yang menemukan guncangan ENSO dapat menekan pertumbuhan ekonomi negara berkembang hingga 2 persen, dengan dampak dua kali lebih besar di kawasan tropis seperti Indonesia.
Dampak El Nino terhadap inflasi dari tahun ke tahun semakin memburuk. El Nino 2023-2024 terjadi bertepatan dengan guncangan pasokan global, sementara neraca beras mulai defisit pada Juli-September 2023. Saat itu, India sebagai pengekspor beras terbesar dunia melarang ekspor beras nonbasmati untuk menjaga stok dan harga dalam negeri. Akibatnya, Indonesia dan negara lain harus berebut pasokan dari sumber lebih terbatas dan mahal. Pada 2023 Indonesia mengimpor 3,06 juta ton beras, dan pada 2024 mengimpor 4,52 juta ton, lebih tinggi tiga hingga lima kali lipat dibanding 2015 (861 ribu ton) dan 2016 (1,28 juta ton).
Menghadapi risiko El Nino yang semakin parah tahun ini, disertai kemungkinan keterlambatan hujan dari jadwal biasanya, peneliti menilai perlu kebijakan untuk menjaga kestabilan pasokan. Mereka memperingatkan ada kemungkinan hujan datang lebih lambat, musim tanam mundur, dan panen raya yang biasanya jatuh Maret-April berisiko tergeser ke April-Mei. Secara historis, periode tersebut paling rentan terhadap lonjakan harga pangan.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)