Perang Berkepanjangan Bikin Warga dan Tentara Rusia Melirik Sihir serta Hal Gaib
Perang Rusia-Ukraina yang berlangsung empat tahun memicu stres berat dan PTSD di kalangan warga serta tentara Rusia. Survei VTsIOM menunjukkan 85% warga pernah mencoba praktik magis, sementara penjualan jimat dan kristal melonjak. Fenomena ini dipandang sebagai upaya mencari kepastian di tengah ketidakstabilan, meski mendapat kritik dari Gereja Ortodoks dan upaya pembatasan legislatif.
Konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina yang telah memasuki tahun keempat tidak hanya berdampak pada lanskap politik dan ekonomi, tetapi juga mengguncang kesehatan mental masyarakat Rusia. Laporan studi medis dalam jurnal The Lancet mengungkap bahwa sebagian besar warga yang terdampak perang mengalami gangguan stres pascatrauma (PTSD), tingkat stres tinggi, hingga kecemasan berat yang terus berlanjut seiring belum berakhirnya perang. Kondisi ini mendorong banyak orang mencari pelarian, dan salah satu yang mencuat adalah ketertarikan pada praktik sihir serta hal-hal gaib.
Reuters melaporkan bahwa fenomena ini terlihat jelas di Moskow. Natalia Malinovskaya, seorang wanita yang menyebut dirinya sebagai penyihir, mengaku memiliki basis klien baru yang sebagian besar adalah para pria yang bertempur di Ukraina timur. Di apartemennya yang remang-remang, ia menawarkan berbagai layanan, mulai dari mantra cinta hingga perlindungan dari kejahatan. Malinovskaya mengklaim mewarisi kekuatan tersebut dari neneknya dan kerap tampil di televisi Rusia.
Lembaga survei negara VTsIOM pada Maret lalu merilis jajak pendapat yang mengejutkan, di mana 85% warga Rusia mengaku pernah mencoba praktik magis. "Tantangan geopolitik dan ekonomi saat ini di Rusia dan di seluruh dunia meningkatkan kecemasan, memicu lonjakan mistisisme," ujar VTsIOM dalam pernyataannya. Lembaga itu menambahkan bahwa dalam kondisi seperti itu, terutama di tengah ancaman militer, kepercayaan—terlepas dari dewa mana yang terlibat—berubah menjadi alat pertahanan psikologis.
Data terbaru VTsIOM juga menyoroti pergeseran perilaku konsumen. Penjualan barang-barang seperti jimat pelindung, kristal, dan alat-alat ritual mengalami lonjakan signifikan. Mistisisme bukan lagi sekadar sistem kepercayaan, tetapi telah berkembang menjadi pasar yang menguntungkan. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena tersebut memiliki dampak ekonomi yang nyata di tengah ketidakpastian.
Sejarah mencatat bahwa mistisisme bukanlah hal baru di Rusia. Kepercayaan pada kekuatan gaib telah lama hidup berdampingan dengan Kekristenan Ortodoks, bertahan melewati pemerintahan kekaisaran dan penindasan era Soviet. Namun, munculnya kembali praktik ini di masa perang lebih dari sekadar soal kepercayaan pada sihir. Ini adalah pencarian kepastian di dunia yang tak terduga, ketika perang, tekanan ekonomi, dan ketidakstabilan sosial membuat lembaga-lembaga tradisional terasa tidak memadai.
Fenomena ini dapat dipahami sebagai bentuk penyesuaian psikologis. Ketika kendali atas keadaan eksternal sangat terbatas, sistem kepercayaan yang menawarkan kendali—bahkan secara simbolis—menjadi lebih menarik bagi individu yang merasa tidak berdaya. Hal ini juga mengungkap ketegangan antara otoritas negara dan Gereja Ortodoks yang berupaya mempertahankan pengaruh atas keyakinan publik, namun tantangan datang dari penyebaran praktik spiritual informal.
Kebangkitan praktik magis ini memicu kekhawatiran di kalangan pihak berwenang dan lembaga keagamaan. Pemimpin tertinggi Kristen Ortodoks, Patriark Kirill, telah mengkritik keras praktik seperti ramalan dan menganggapnya berbahaya secara spiritual. Selain itu, muncul upaya legislatif untuk membatasi iklan layanan semacam itu, dengan para kritikus memperingatkan bahwa individu yang rentan dapat dieksploitasi secara finansial selama masa krisis.
Dengan perang yang masih berkecamuk, kebutuhan akan kepastian dan ketenangan batin tampaknya akan terus mendorong sebagian warga Rusia untuk mencari jawaban di luar jalur konvensional. Fenomena ini menjadi cerminan bagaimana tekanan besar dapat mengubah lanskap sosial dan spiritual suatu masyarakat.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)