Satelit NASA Pindai Kalimantan, Kabut Asap Karhutla Makin Pekat dan Sulit Terdeteksi
Satelit Aqua milik NASA menangkap kondisi terbaru Kalimantan yang kian tertutup asap akibat karhutla. Peneliti menyebut El Nino kuat memperparah situasi, dengan aktivitas api melonjak seperti 2015. Kabut asap mulai mengganggu sekolah, taman nasional, dan penerbangan, sementara sensor satelit justru sulit mendeteksi api saat asap paling tebal.
Lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA, kembali merilis citra satelit yang memperlihatkan kondisi Kalimantan yang semakin tertutup kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam potret terbaru tersebut, pulau yang dikenal sebagai paru-paru dunia itu nyaris tak terlihat karena sebagian besar wilayahnya diselimuti asap pekat.
Citra itu diambil pada Selasa (1/9) oleh instrumen MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) yang terpasang pada satelit Aqua milik NASA. Selain merekam kabut asap, satelit tersebut juga mendeteksi hot spot atau titik api kebakaran yang tersebar di sejumlah wilayah Kalimantan.
Peneliti dari Columbia University, Robert Field, mengungkapkan bahwa salah satu pemicu karhutla di Kalimantan adalah fenomena El Nino kategori kuat yang tengah berlangsung. Robert, yang juga mengembangkan instrumen Global Fire Weather Database untuk prakiraan cuaca kebakaran secara real-time, memprediksi kondisi kali ini berpotensi lebih parah dibanding kejadian serupa pada 1997 dan 2015.
"Indonesia baru berjalan sekitar tiga minggu memasuki musim kebakarannya, tetapi kita sudah melihat aktivitas api melonjak tajam, mirip seperti tahun 2015," ujar Robert, mengutip situs resmi NASA. Menurutnya, El Nino yang kuat membuat musim kemarau jauh lebih kering di daerah rawan kebakaran sehingga memperparah situasi, persis seperti yang telah diperkirakan sebelumnya.
Robert mencatat bahwa pada 2015, setelah terbakar lebih dari tiga bulan, kebakaran di Indonesia melepaskan 1,75 miliar ton setara gas rumah kaca, melebihi total emisi tahunan Jepang. Sementara hingga Rabu (2/9), kebakaran tahun ini yang baru berlangsung sekitar satu bulan baru melepaskan emisi sekitar 10 persen dari total emisi kebakaran 2015.
Seperti pada 2015, Indonesia kini berada dalam cengkeraman kekeringan parah dan meluas pada musim panas 2026. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan sekitar 90 persen wilayah Indonesia mencatat curah hujan sangat sedikit hingga tidak ada hujan sama sekali pada awal Agustus. Dalam kondisi normal, lapisan gambut di bawah tanah Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memicu penyebaran api, tetapi keadaan berubah saat kekeringan melanda.
"Kebakaran di permukaan sebenarnya tidak terlalu mengkhawatirkan, tetapi ketika api sudah menjalar ke bawah tanah, api tersebut sangat sulit dihentikan," kata Robert. Ia memperkirakan api akan terus membara sampai hujan turun pada Oktober atau November.
Pemerintah Indonesia memanfaatkan pengamatan satelit NASA dan NOAA melalui sensor MODIS dan VIIRS untuk memantau titik api secara near-real-time. Platform pemantauan kebakaran milik Kementerian Kehutanan, SiPongi, misalnya mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026. Namun, sensor MODIS dan VIIRS memiliki keterbatasan mendeteksi api yang tertutup asap tebal, awan, berada di bawah kanopi hutan, atau di bawah permukaan tanah gambut. Ketika kebakaran mencapai puncaknya, jumlah api yang terekam justru bisa terlihat menurun.
"Peristiwa asap terparah, secara paradoks, justru menjadi yang paling sulit diamati dari luar angkasa dengan MODIS dan VIIRS," ujar Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science. Menurut Cochrane, pembangunan saluran irigasi dan pengeringan rawa gambut skala besar pada 1990-an untuk proyek cetak sawah berkontribusi besar pada tingginya kerawanan kebakaran saat ini karena menurunkan permukaan air tanah secara drastis. Ia menambahkan, perkebunan kelapa sawit dan konsesi hutan tanaman industri sangat umum di wilayah tersebut.
Dampak kabut asap di Indonesia dan negara-negara tetangga mulai mengganggu aktivitas warga. Pejabat pemerintah Indonesia telah memperingatkan bahwa sebagian besar masyarakat terpapar asap berbahaya. Beberapa sekolah mulai mengalihkan kegiatan belajar mengajar secara daring, sembilan taman nasional ditutup sementara, dan sejumlah penerbangan mengalami penundaan akibat jarak pandang yang tertutup asap tebal.
"Orang-orang cenderung baru memberikan perhatian pada kebakaran ini saat El Nino terjadi, lalu melupakannya begitu saja setelahnya," tutur Cochrane. "Kita membutuhkan fokus dan komitmen yang berkelanjutan, bahkan pada tahun-tahun ketika kondisinya tidak terlalu buruk, untuk benar-benar menyelesaikan masalah ini. Kebakaran ini menghasilkan emisi dalam jumlah yang sangat besar," lanjutnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0