Rahasia di Balik Pemusnahan Jutaan Buku oleh Perusahaan AI, Ternyata untuk Alasan Ini

Perusahaan AI seperti Anthropic diam-diam membeli, memindai, dan menghancurkan jutaan buku bekas untuk melatih model mereka. Praktik ini memanfaatkan celah hukum dan menimbulkan kontroversi, terutama terkait hak cipta dan dampaknya pada dunia seni. Gugatan penulis berujung pada penyelesaian damai senilai US$1,5 miliar.

Aug 21, 2026 - 00:57
Updated: 2 months ago
0 0
Rahasia di Balik Pemusnahan Jutaan Buku oleh Perusahaan AI, Ternyata untuk Alasan Ini
Rahasia di Balik Pemusnahan Jutaan Buku oleh Perusahaan AI, Ternyata untuk Alasan Ini

Jakarta, CNN Indonesia -- Di balik kecanggihan teknologi kecerdasan buatan (AI), tersembunyi praktik kontroversial yang dilakukan sejumlah perusahaan pengembang AI. Mereka diam-diam membeli, memindai, dan menghancurkan jutaan buku fisik bekas untuk dijadikan data pelatihan model AI. Tren ini semakin marak dan memicu pertanyaan etika di industri teknologi.

Salah satu perusahaan yang terlibat adalah Anthropic, pembuat model AI Claude. Melalui dokumen internal yang terungkap dalam gugatan hukum, diketahui bahwa perusahaan menjalankan proyek rahasia bernama Project Panama. Proyek ini bertujuan mengumpulkan buku fisik untuk melatih AI, namun perusahaan sangat menyadari risiko citra buruk jika praktik ini diketahui publik.

Gugatan yang diajukan oleh sekelompok penulis terhadap Anthropic akhirnya diselesaikan secara damai dengan nilai ganti rugi mencapai US$1,5 miliar pada Agustus tahun lalu. Dokumen yang dibuka dalam kasus tersebut mengungkap bagaimana jajaran pimpinan Anthropic menganggap buku sebagai elemen penting untuk melatih AI. Salah satu pendiri bahkan menyatakan bahwa buku akan mengajari AI menulis dengan baik, bukan meniru gaya bahasa internet berkualitas rendah.

Metode yang digunakan terbilang sederhana namun destruktif. Perusahaan membeli buku bekas dalam jumlah besar, kemudian menggunakan mesin pemotong bertenaga hidraulik untuk memotong buku-buku tersebut secara rapi. Halaman-halamannya lalu dipindai menggunakan pemindai berkecepatan tinggi. Setelah itu, sisa-sisa buku yang hancur dijadwalkan untuk diambil oleh perusahaan daur ulang agar tidak terkesan membuang limbah.

Praktik ini memanfaatkan celah hukum yang disebut doktrin penjualan pertama. Doktrin ini mengizinkan pembeli memperlakukan barang beliannya secara bebas tanpa campur tangan pemegang hak cipta. Dengan mengubah format dari kertas ke digital, tindakan tersebut dianggap transformatif dan tidak mencetak ulang atau mendistribusikan kembali buku fisik. Hal ini dinilai cukup untuk dikategorikan sebagai penggunaan yang adil, sehingga Anthropic terhindar dari kewajiban membayar royalti kepada penulis.

Namun, kekhawatiran akan citra tetap menghantui. Dalam dokumen perencanaan internal tahun 2024, tertulis pernyataan, "Kami tidak ingin ada yang tahu bahwa kami sedang mengerjakan proyek ini." Hal ini menunjukkan kesadaran perusahaan bahwa praktik ini bisa menjadi simbol nyata dari pandangan publik bahwa teknologi AI sedang merusak dunia seni.

Sebelum beralih ke buku fisik, Anthropic awalnya mengandalkan buku digital. Pada tahun 2021, salah satu pendiri Anthropic, Ben Mann, mengunduh jutaan buku dari LibGen, situs perpustakaan bayangan yang menyediakan teks bajakan secara gratis. Meskipun perusahaan membantah menggunakan buku bajakan untuk melatih model komersial, penggunaan buku bajakan merupakan tindakan ilegal yang akhirnya berujung pada kesepakatan ganti rugi.

Anthropic bukan satu-satunya perusahaan yang melakukan praktik ini. Dalam gugatan penulis lainnya, terungkap bahwa Meta milik Mark Zuckerberg juga mengambil jutaan buku dari perpustakaan bayangan seperti LibGen. Praktik ini semakin meluas hingga penjual buku berskala besar ikut mengambil keuntungan dari tren AI.

Salah satu platform bernama ISBNdb, yang mengklaim memiliki basis data buku terbesar di dunia, menyebutkan bahwa data pelatihan AI terbaik saat ini sebenarnya tersimpan di rak-rak buku. Teks fisik dianggap steril dari paparan tulisan hasil AI berkualitas rendah yang sudah banyak mencemari internet. ISBNdb kini memfasilitasi perusahaan AI untuk membeli buku secara borongan, mulai dari ribuan hingga satu juta eksemplar per pesanan, sambil menjamin kerahasiaan transaksi agar tidak menjadi sorotan publik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User