Musala Ponpes Al Khoziny Ambruk Saat Salat, Evakuasi Korban Masih Berlanjut
Musala Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo runtuh saat salat Asar, lima santri tewas dan puluhan lainnya masih tertimbun reruntuhan.
Sidoarjo, Jawa Timur – Suasana haru dan duka menyelimuti Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo. Sebuah musala di kompleks pesantren itu mendadak runtuh pada Senin (29/9/2025) sekitar pukul 15.00 WIB, tepat ketika para santri tengah khusyuk melaksanakan salat Asar berjemaah. Peristiwa ini seketika menorehkan luka mendalam, bukan hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi masyarakat luas yang menyaksikan pemberitaan tragedi memilukan ini.
Di balik runtuhan beton dan besi, ada cerita pilu tentang anak-anak yang menimba ilmu agama, tentang keluarga yang menitipkan harapan, serta tentang keyakinan bahwa lembaga pendidikan seharusnya menjadi tempat aman, bukan malah membawa maut.
Hingga Rabu (1/10/2025) malam, proses evakuasi masih terus dilakukan. Data sementara mencatat 107 orang telah berhasil dievakuasi, lima di antaranya meninggal dunia, sementara puluhan lainnya diduga masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan.
Kronologi Tragedi
Insiden bermula saat santri sedang melaksanakan salat Asar berjemaah di musala. Sekitar pukul 15.00 WIB, lantai atas musala ambruk menghantam lantai dasar. Diduga, tiang fondasi tidak mampu menahan tambahan beban dari pengecoran yang sedang berlangsung di bagian atas bangunan. Dalam hitungan detik, musala yang biasanya menjadi tempat ibadah penuh ketenangan berubah menjadi lautan puing yang menjerat para santri di dalamnya.
Sejumlah saksi mata menyebutkan bahwa suara dentuman keras disertai teriakan histeris terdengar saat bangunan runtuh. Warga sekitar dan santri yang selamat segera berusaha memberikan pertolongan seadanya sebelum tim SAR gabungan tiba di lokasi.
Penjelasan BNPB: Bencana Kegagalan Teknologi Konstruksi
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, menyatakan bahwa runtuhnya musala Ponpes Al Khoziny masuk dalam kategori bencana kegagalan teknologi konstruksi. Menurutnya, insiden ini menjadi pengingat bahwa pembangunan fasilitas publik, apalagi tempat ibadah dan pendidikan, harus mengikuti standar keselamatan konstruksi.
“Insiden ini mengingatkan kita semua betapa pentingnya pengawasan teknis dan penerapan standar keamanan dalam setiap pembangunan. Kelalaian sekecil apa pun dapat berakibat fatal,” tegas Suharyanto dalam keterangannya.
Ia menambahkan, pemerintah bersama aparat terkait akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk mengetahui sejauh mana prosedur pembangunan di Ponpes Al Khoziny sesuai dengan ketentuan teknis yang berlaku.
Jumlah Korban dan Upaya Evakuasi
Hingga Rabu malam, data sementara mencatat 107 korban berhasil dievakuasi dari reruntuhan. Dari jumlah tersebut, lima orang dinyatakan meninggal dunia, sedangkan puluhan lainnya masih tertimbun di bawah puing bangunan. Proses pencarian melibatkan Basarnas, TNI, Polri, BNPB, serta relawan dari berbagai organisasi kemanusiaan.
Petugas menggunakan peralatan manual maupun teknologi canggih, termasuk drone thermal, untuk mendeteksi tanda-tanda kehidupan. Evakuasi dilakukan dengan hati-hati karena dikhawatirkan pergeseran puing dapat mengancam keselamatan korban yang masih tertimbun.
Meski waktu terus berjalan, harapan keluarga korban belum pupus. Banyak di antara mereka menunggu dengan penuh cemas di sekitar lokasi kejadian, berharap sanak saudara mereka masih bisa diselamatkan.
Suasana Duka di Lokasi
Tangis keluarga korban pecah setiap kali ada jenazah atau korban selamat yang berhasil dievakuasi. Suasana di sekitar Ponpes Al Khoziny dipenuhi rasa haru bercampur pilu. Beberapa keluarga bahkan pingsan tak kuasa menahan kesedihan mendalam.
Masyarakat sekitar turut memberikan dukungan, mulai dari membantu menyediakan logistik hingga tenaga sukarela. Posko darurat didirikan tidak jauh dari lokasi untuk memudahkan koordinasi antara tim penyelamat, tenaga medis, dan keluarga korban.
Pemerintah Daerah Turun Tangan
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur langsung bergerak cepat. Bupati Sidoarjo meninjau lokasi dan menyampaikan belasungkawa mendalam. Pemerintah daerah juga berkomitmen memberikan bantuan, baik berupa santunan bagi keluarga korban meninggal maupun pendampingan medis untuk korban yang selamat.
Gubernur Jawa Timur menegaskan bahwa insiden ini tidak boleh terulang. Ia memerintahkan jajaran terkait untuk mengevaluasi semua bangunan pendidikan, terutama pondok pesantren dan musala yang ada di wilayah Jawa Timur.
“Keselamatan para santri adalah prioritas utama. Kami akan memastikan pengawasan lebih ketat terhadap pembangunan fasilitas pendidikan ke depan,” tegasnya.
Mengapa Musala Bisa Ambruk?
Pakar konstruksi menilai bahwa kemungkinan besar penyebab runtuhnya musala adalah kegagalan struktur akibat fondasi yang tidak sesuai standar. Beban tambahan dari pengecoran lantai atas diduga menjadi pemicu utama.
Hal ini diperparah oleh kemungkinan lemahnya pengawasan dalam proses pembangunan. Banyak pondok pesantren di Indonesia yang membangun fasilitas dengan dana terbatas, sehingga sering kali mengorbankan aspek teknis demi efisiensi biaya.
Harapan Agar Tragedi Tak Terulang
Tragedi Ponpes Al Khoziny menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan di Indonesia. Musala seharusnya menjadi ruang aman bagi para santri untuk beribadah dan belajar. Namun, musibah ini membuktikan bahwa kelalaian dalam konstruksi bisa merenggut nyawa.
BNPB, pemerintah daerah, dan para ahli konstruksi menekankan pentingnya penerapan standar keamanan yang ketat. Setiap pembangunan fasilitas pendidikan dan ibadah wajib melalui pengawasan profesional agar tidak mengulang tragedi serupa.
Solidaritas Masyarakat
Berbagai organisasi kemanusiaan, tokoh agama, hingga masyarakat umum menunjukkan solidaritas tinggi. Bantuan logistik, dukungan doa, hingga tenaga relawan terus mengalir ke lokasi kejadian. Dukungan ini sedikit banyak meringankan beban keluarga korban yang tengah berduka.
Bagaimana Proses Evakuasi Selanjutnya?
Evakuasi diperkirakan akan memakan waktu panjang. Tim SAR berencana menggunakan kombinasi alat manual dan alat berat untuk mempercepat proses. Meski demikian, keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap langkah.
Keluarga korban berharap evakuasi dapat berjalan cepat sehingga nasib sanak saudara mereka segera diketahui. Bagi mereka, kepastian jauh lebih penting daripada menunggu tanpa arah.
Penutup
Tragedi ambruknya musala di Ponpes Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, menjadi duka mendalam bagi dunia pendidikan Indonesia. Kejadian ini tidak hanya soal runtuhnya bangunan, tetapi juga runtuhnya harapan dan rasa aman keluarga yang mempercayakan anak-anak mereka pada lembaga pendidikan.
Dengan total 107 korban yang sudah dievakuasi dan lima di antaranya meninggal dunia, peristiwa ini menyisakan pelajaran penting: keselamatan harus menjadi prioritas utama. Penerapan standar konstruksi dan pengawasan ketat adalah kunci untuk mencegah musibah serupa di masa depan.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0