Klaim Trump Dibantah, Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap di Bawah Kendali Teheran
Komandan Basij Iran, Hossein Taeb, membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut Amerika memegang kendali penuh atas Selat Hormuz. Iran menegaskan selat strategis itu tetap berada di bawah kendali dan pengelolaan Teheran. Militer Iran juga menyatakan tidak ada kapal yang bisa melintas tanpa izin Iran, dan memperingatkan respons keras jika terjadi konflik di masa depan.
Jakarta, CNN Indonesia -- Komandan paramiliter Basij, Hossein Taeb, dengan tegas membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim bahwa AS memegang kendali penuh atas Selat Hormuz. Taeb menegaskan bahwa selat strategis tersebut tetap berada di bawah kendali dan pengelolaan Iran.
"Hari ini Anda melihat bahwa Selat Hormuz berada di bawah pengelolaan dan kendali Republik Islam (Iran), dan negara kami terus melangkah dalam kondisi keamanan penuh," ujar Taeb dalam pernyataannya pada Kamis (13/8). Ia juga menambahkan, "Pihak Amerika telah menyaksikan kekuatan revolusi kami," seperti dikutip dari Al Jazeera.
Pernyataan ini muncul sehari setelah Trump menyatakan bahwa AS memegang kendali penuh atas jalur perairan yang menjadi salah satu titik paling vital di dunia tersebut. Namun, klaim itu langsung mendapat respons keras dari militer Iran.
Dalam pernyataan terpisah, komando militer gabungan Iran, Markas Besar Pusat Khatam Al Anbiya, menegaskan bahwa tidak ada kapal yang dapat melintasi Selat Hormuz tanpa izin dari Teheran. Mereka juga menyebut klaim AS mengenai pelayaran normal di selat tersebut sebagai kebohongan dan kepalsuan belaka.
Pejabat senior urusan politik militer, Rasoul Sanaei-Rad, menyatakan bahwa Iran tidak akan membuka kembali selat tersebut kecuali AS memenuhi komitmennya berdasarkan kesepakatan sementara yang bertujuan mengakhiri perang. Ia juga memperingatkan bahwa Iran akan merespons dengan keras dalam konflik apa pun di masa depan.
"Dalam kemungkinan perang di masa depan, kami akan bersikap lebih tegas dan lebih ofensif," ujar Sanaei-Rad.
Pada Juni lalu, kedua negara sempat mencapai kesepakatan sementara untuk memperpanjang gencatan senjata yang telah berlaku sejak April, serta menyerukan pemulihan segera kebebasan navigasi di kawasan Teluk. Namun, kesepakatan itu kandas beberapa minggu kemudian setelah Iran kembali melancarkan serangan terbatas terhadap kapal-kapal yang dianggap melanggar ketentuan perjanjian.
Situasi ini memicu AS untuk kembali melancarkan serangan ke wilayah provinsi selatan Iran, yang diduga bertujuan melemahkan kemampuan Teheran dalam mengincar kapal-kapal di kawasan Teluk. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyatakan bahwa AS telah lama salah perhitungan akibat kegagalan intelijen, termasuk saat memulai perang dengan Iran.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0