Empat Gunung Api Erupsi Hampir Bersamaan, Pakar Beberkan Fakta di Baliknya

Empat gunung api Indonesia yakni Anak Krakatau, Semeru, Ili Lewotolok, dan Ibu erupsi pada Minggu (6/9). Pakar IABI Daryono menegaskan erupsi tersebut tidak saling berkaitan karena tidak ada jalur magma bawah tanah yang menghubungkan dapur magma antargunung. Fenomena ini disebut bagian dari dinamika tektonik di kawasan Ring of Fire.

Oct 2, 2026 - 20:02
Oct 2, 2026 - 20:02
 0
Empat Gunung Api Erupsi Hampir Bersamaan, Pakar Beberkan Fakta di Baliknya
Empat Gunung Api Erupsi Hampir Bersamaan, Pakar Beberkan Fakta di Baliknya

Empat gunung api di Indonesia menunjukkan peningkatan aktivitas erupsi dalam rentang waktu yang berdekatan pada Minggu (6/9). Keempat gunung tersebut adalah Gunung Anak Krakatau, Gunung Semeru, Gunung Ili Lewotolok, dan Gunung Ibu.

Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan bahwa erupsi keempat gunung itu tidak memiliki keterkaitan langsung satu sama lain. Menurutnya, tidak ada mekanisme geologis berupa jalur pipa atau jaringan saluran magma bawah tanah tunggal yang menghubungkan dapur magma antargunung tersebut.

"Meskipun keempat gunung ini menunjukkan peningkatan aktivitas pada waktu yang relatif berdekatan, secara geologi tidak ada mekanisme 'jalur pipa' atau jaringan saluran magma bawah tanah tunggal yang menghubungkan dapur magma (magma chamber) antargunung tersebut," ujar Daryono dalam keterangan tertulisnya, Minggu (6/9).

Daryono menjelaskan bahwa erupsi yang terjadi hampir bersamaan ini disebabkan oleh masing-masing sistem vulkanik yang telah mencapai tahap kritis akumulasi tekanan fluida dan magma. Fenomena tersebut, katanya, merupakan bagian dari dinamika tektonik di wilayah Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik.

Indonesia sendiri berada di zona konvergensi kompleks tempat Lempeng Indo-Australia, Pasifik, dan Filipina menunjam di bawah Lempeng Eurasia. Kondisi inilah yang membuat wilayah Indonesia rawan terhadap aktivitas vulkanik.

Perbedaan ketinggian kolom abu dari keempat erupsi juga mencerminkan perbedaan dinamika erupsi, tingkat viskositas magma, serta kandungan gas vulkanik masing-masing gunung. Erupsi Anak Krakatau disebut memiliki dampak lebih luas karena abu vulkaniknya mencapai Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu.

Menurut Daryono, kondisi tersebut mengindikasikan tingginya volume material yang terlontar ke lapisan troposfer tengah hingga atas, sehingga material dapat terbawa sirkulasi angin regional termasuk angin monsun. Sementara itu, erupsi Semeru dengan kolom abu sekitar 1.000 meter, Ili Lewotolok 600 meter, dan Gunung Ibu 400 meter dinilai memiliki intensitas energi yang lebih terlokalisasi.

Tinggi kolom abu pada erupsi tersebut dipengaruhi kekuatan tekanan gas di dalam saluran kawah serta gaya apung termal saat kolom erupsi berinteraksi dengan massa udara di sekitarnya. Secara fisika dan kimia vulkanologi, karakter abu dan lontaran material juga ditentukan proporsi silika (SiO2) serta kandungan material volatil seperti H2O, CO2, dan SO2.

Magma yang lebih kental dan mengandung banyak gas cenderung menghasilkan erupsi eksplosif yang dapat memecah magma menjadi partikel abu vulkanik halus berukuran submilimeter, sehingga lebih mudah terbawa jauh mengikuti arah angin di troposfer. Sebaliknya, gunung dengan magma lebih cair atau sistem saluran relatif terbuka dapat melepaskan tekanan gas secara berulang melalui kolom erupsi berskala menengah, sehingga dampaknya cenderung lebih terlokalisasi di sekitar kawasan kawah utama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0