Dentuman Erupsi Anak Krakatau Terdengar hingga Bandung, Ahli Jelaskan Prosesnya

Dentuman yang terdengar di Bandung dan sejumlah wilayah Jawa Barat pada 4-5 September diduga berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau. PVMBG menyebut pelepasan energi akustik erupsi phreatic mampu merambat ratusan kilometer, sementara ahli IABI menjelaskan peran infrasound, refraksi temperatur, dan wind shear stratosfer yang mengamplifikasi suara di Cekungan Bandung.

Oct 4, 2026 - 12:02
Oct 4, 2026 - 12:02
 0
Dentuman Erupsi Anak Krakatau Terdengar hingga Bandung, Ahli Jelaskan Prosesnya
Dentuman Erupsi Anak Krakatau Terdengar hingga Bandung, Ahli Jelaskan Prosesnya

Dentuman yang terdengar di Bandung dan sejumlah wilayah Jawa Barat sekitar Jumat (4/9) sempat membuat masyarakat bertanya-tanya. Para ahli menduga suara tersebut bukan berasal dari gempa atau getaran tanah, melainkan dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Rita Susilawati, menyebut adanya dugaan hubungan antara dentuman di Bandung dengan erupsi Gunung Anak Krakatau. Menurutnya, pelepasan energi akustik dari erupsi tipe phreatic biasanya disertai dentuman yang nyaring. Ia pun menyatakan erupsi Gunung Anak Krakatau kemungkinan menjadi salah satu sumber suara dentuman di beberapa wilayah Jawa Barat pada 4-5 September.

"Ketika ini terjadi, pelepasan energi akustiknya itu bisa sangat besar, dan energi akustik inilah yang bisa merambat hingga ratusan kilometer," jelas Rita, seperti dilansir Detik (5/9).

Meski demikian, Rita menegaskan pihaknya belum dapat memastikan penyebab pasti getaran dan dentuman tersebut. Ia menambahkan bahwa kondisi atmosfer, seperti perbedaan temperatur, arah, dan kecepatan angin, turut memengaruhi perambatan suara.

Pernyataan anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, memperkuat dugaan bahwa dentuman di Bandung mungkin bersumber dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Menurut Daryono, fenomena dentuman Bandung terjadi akibat konversi mendadak energi termal dan mekanis erupsi menjadi gelombang kompresi akustik berfrekuensi amat rendah atau infrasound yang merambat melalui troposfer dan stratosfer.

Daryono menjelaskan gelombang tekanan tersebut terperangkap di dalam saluran gelombang atmosferik (atmospheric waveguide) akibat refraksi gradien temperatur serta geser angin (wind shear). Kondisi itu membuat gelombang suara tidak terdengar secara langsung, melainkan mengalami redaman atenuasi yang minim, atau membias dan akhirnya sampai ke permukaan ruang yang jauh di Bandung.

Redaman gelombang suara tersebut memicu getaran resonansi mekanis pada struktur ringan seperti kaca jendela, tanpa melibatkan propagasi gelombang seismik tanah.

"Penumpukan gelombang akustik spesifik di Bandung terjadi akibat kombinasi refraksi infrasound pada gradient temperatur dan wind shear stratosfer yang membiaskan energi suara melompati daerah terdekat (acoustic shadow zone) untuk jatuh tepat pada jarak fokal Cekungan Bandung," ungkap Daryono.

Bentuk topografi Cekungan Bandung tersebut, lanjutnya, menjadi rongga akustik (acoustic cavity) yang memantulkan kembali serta mengamplifikasi tekanan gelombang atmosferik tersebut secara lokal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0