Cuaca Ekstrem Makin Sering, Risiko Kesepian Manusia Ikut Meningkat

Krisis iklim tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga memperburuk kesepian dengan membatasi interaksi sosial dan merusak ruang berkumpul. Cuaca ekstrem seperti badai, panas, dan banjir membuat orang enggan keluar rumah, memutus komunikasi, dan menghilangkan tempat berkumpul. Dampak ini paling terasa bagi kelompok rentan seperti lansia dan warga pedesaan.

Aug 22, 2026 - 07:17
Updated: 2 months ago
0 0
Cuaca Ekstrem Makin Sering, Risiko Kesepian Manusia Ikut Meningkat
Cuaca Ekstrem Makin Sering, Risiko Kesepian Manusia Ikut Meningkat

Jakarta, CNN Indonesia -- Krisis iklim tidak hanya mengubah wajah lingkungan, tetapi juga berpotensi memperparah epidemi kesepian di tengah masyarakat. Cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, seperti badai, gelombang panas, banjir, dan kebakaran hutan, secara tidak langsung membatasi interaksi sosial dan merusak ruang-ruang berkumpul yang menjadi tempat masyarakat saling terhubung.

Fiona Doherty, asisten profesor bidang pekerjaan sosial di University of Tennessee, mengungkapkan bahwa dampak sosial dari perubahan iklim sering kali terabaikan. Padahal, menurutnya, salah satu konsekuensi paling serius adalah semakin terisolasinya individu dari lingkungan sosialnya.

"Saya meneliti krisis sosial dan lingkungan yang saling berkaitan, termasuk keterasingan sosial dan cuaca ekstrem. Saya menemukan bahwa salah satu dampak perubahan iklim yang paling sering terabaikan mungkin adalah potensinya untuk memperburuk epidemi kesepian," tulis Doherty dalam analisisnya pada Rabu (5/8).

Interaksi sosial, lanjut Doherty, memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental dan fisik. Kehadiran orang lain dapat membantu menjaga otak tetap aktif, menurunkan stres, bahkan menyelamatkan nyawa saat bencana. Misalnya, ketika gelombang panas melanda, teman dan tetangga bisa saling memperingatkan, memeriksa kondisi lansia, atau menyiapkan tempat berlindung yang sejuk.

Namun, cuaca ekstrem yang semakin intens justru melemahkan jaringan sosial tersebut. Seorang pekerja sosial berusia 28 tahun di wilayah pedesaan Appalachia, AS, mengungkapkan bahwa banyak orang enggan meninggalkan rumah saat suhu sangat panas. Mereka memilih bertahan di dekat pendingin udara atau kipas daripada menghadiri acara dan berinteraksi dengan masyarakat.

Badai dan banjir juga membuat perjalanan menjadi berbahaya, sehingga warga kesulitan mengunjungi keluarga atau menghadiri pertemuan sosial. Selain itu, gangguan listrik dan jaringan komunikasi akibat cuaca ekstrem semakin memutus koneksi antarwarga. Seorang warga pedesaan berusia 74 tahun menuturkan, "Ketika listrik padam, kami tidak memiliki layanan telepon seluler. Tanpa telepon, Anda benar-benar kehilangan seluruh koneksi."

Krisis iklim juga menghilangkan ruang berkumpul yang memiliki nilai budaya dan sosial. Banjir dapat merusak tempat terbuka yang biasa digunakan untuk berenang, piknik, atau sekadar berkumpul. Doherty mencontohkan pengalaman pribadinya di Cherry Valley, New York, ketika Badai Irene dan Badai Tropis Lee pada 2011 menghancurkan tanggul dan mengubah sebuah danau kecil yang menjadi tempat favorit keluarga-keluarga menjadi kosong.

"Setelah air banjir menjebol tanggul, sebuah tempat komunitas yang sangat disayangi yang dikenal sebagai 'the reservoir' menjadi kosong, sehingga komunitas pedesaan kami kehilangan salah satu dari sedikit tempat berkumpul yang dimilikinya," tuturnya.

Kekeringan berkepanjangan juga turut memperparah kondisi dengan menurunkan permukaan air sungai dan danau, meningkatkan risiko kebakaran hutan, serta merusak hasil pertanian yang menjadi penopang tradisi masyarakat. Hilangnya tempat dan tradisi ini mengurangi pengalaman bersama yang menjaga hubungan antargenerasi.

Dampak sosial ini paling berat dirasakan oleh kelompok yang sebelumnya sudah terisolasi, seperti lansia, warga pedesaan, serta mereka yang tidak memiliki akses transportasi dan internet memadai. Untuk itu, Doherty menyarankan pemerintah berinvestasi pada pusat komunitas seperti perpustakaan umum yang dapat berfungsi sebagai tempat berkumpul sekaligus pusat ketahanan iklim, menyediakan ruang belajar, tempat berlindung dari panas, akses internet, dan fasilitas pengisian daya saat listrik padam.

"Di tengah gangguan iklim yang semakin cepat, hubungan sosial mungkin menjadi aset terbesar sebuah komunitas, tetapi sekaligus salah satu sumber daya yang paling rapuh untuk dilindungi," pungkas Doherty.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User