Bantuan Dijarah, Gaza Lapar, Dunia Mulai Bereaksi Keras!

Bantuan ke Gaza kembali dijarah di tengah kekacauan. Israel dituduh sengaja ciptakan kelaparan. Inggris dan dunia internasional mulai bersuara.

Aug 3, 2025 - 20:52
 0
Bantuan Dijarah, Gaza Lapar, Dunia Mulai Bereaksi Keras!
Warga Palestina membawa bantuan kemanusiaan dari konvoi Program Pangan Dunia yang menuju Kota Gaza

Bantuan ke Gaza Dijarah, Palestina Tuding Israel Ciptakan Kekacauan

GAZA — Di tengah krisis kemanusiaan yang kian parah, pengiriman bantuan ke Jalur Gaza kembali terganggu. Pemerintah Palestina di wilayah tersebut menyampaikan bahwa sebagian besar dari 36 truk bantuan yang diizinkan masuk pada Jumat (2/8/2025) malah menjadi korban penjarahan. Truk-truk tersebut dirampok dalam kondisi kacau yang disebut-sebut sebagai hasil dari taktik militer Israel.

Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, situasi keamanan yang sengaja dibiarkan memburuk oleh militer Zionis Israel telah membuat jalur distribusi bantuan tak lagi aman. Mereka menuding Israel menerapkan "strategi kelaparan dan kekacauan" secara sistematis guna membuat rakyat Gaza menderita lebih dalam.

Gaza Dilanda Kelaparan, Bantuan Tak Cukup

Laporan dari Program Pangan Dunia (WFP) PBB memperlihatkan gambaran memilukan. Sekitar sepertiga dari penduduk Gaza saat ini tidak mendapatkan asupan makanan selama berhari-hari. WFP bahkan memperingatkan bahwa satu dari empat warga Gaza hidup dalam kondisi mendekati kelaparan. Tak hanya itu, sekitar 100 ribu perempuan dan anak-anak mengalami kekurangan gizi akut.

Situasi ini diperburuk dengan adanya blokade ketat dari Israel. Jalur Gaza telah diblokir selama hampir dua dekade. Sejak 2 Maret 2025, seluruh perbatasan ditutup total, menyulitkan masuknya pasokan makanan, air bersih, dan kebutuhan medis. Berdasarkan estimasi pejabat Palestina, sedikitnya 600 truk bantuan dibutuhkan setiap harinya untuk mencukupi kebutuhan lebih dari 2,4 juta penduduk Gaza. Kenyataannya, hanya segelintir kendaraan yang berhasil menembus blokade, dan sebagian besar berakhir dijarah di tengah kekacauan.

Perang yang Menyebabkan Krisis Kemanusiaan

Sejak 7 Oktober 2023, wilayah Gaza digempur habis-habisan oleh serangan militer Israel. Aksi militer yang banyak pihak sebut sebagai bentuk genosida ini telah menewaskan lebih dari 60.300 warga Palestina. Rentetan serangan udara, artileri, dan pemboman darat menyebabkan kerusakan masif pada infrastruktur sipil—termasuk rumah sakit, sekolah, dan tempat penampungan.

Akses warga terhadap kebutuhan dasar nyaris mustahil. Mereka harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk mendapatkan seteguk air atau sebungkus makanan. Banyak warga sipil dilaporkan tewas ketika tengah mengantre bantuan karena diserang oleh pasukan Israel.

Inggris Kecam Aksi Brutal Israel

Kritik terhadap tindakan militer Israel datang dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari Inggris. Menteri Luar Negeri Inggris, David Lammy, mengungkapkan kemarahannya terhadap penembakan warga sipil Palestina yang tengah menunggu bantuan. Dalam wawancara dengan The Guardian, Lammy menyebut peristiwa tersebut sebagai “menjijikkan” dan menyatakan bahwa Israel harus dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya.

Lammy menekankan pentingnya gencatan senjata segera dan menyerukan akuntabilitas terhadap kekerasan yang terjadi di lapangan. Ia juga menyatakan bahwa pengakuan terhadap Palestina sebagai negara merdeka menjadi langkah strategis yang krusial dan hanya bisa dilakukan sekali, oleh karena itu harus tepat waktu.

Ketika ditanya apakah dirinya ingin berkunjung ke Gaza, Lammy menjawab tanpa ragu, “Tentu. 100 persen.” Ia juga membagikan sisi emosional dari peristiwa ini, mengaku merasa sangat frustrasi dan sedih melihat penderitaan yang terjadi, meski ia sendiri tidak menangis.

Dunia Mendesak Israel Dihukum

Lembaga-lembaga hak asasi manusia di Israel, seperti B’Tselem dan Physicians for Human Rights–Israel, ikut bersuara lantang. Mereka menilai bahwa tindakan Israel memenuhi unsur genosida, terutama karena adanya bukti penghancuran sistematis terhadap masyarakat Palestina, serta sabotase terhadap layanan kesehatan.

Tuduhan ini juga mendapat perhatian lembaga internasional. Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan mantan Menteri Pertahanan, Yoav Gallant. Mereka dituduh melakukan kejahatan perang serta kejahatan terhadap kemanusiaan di Jalur Gaza.

Selain itu, Israel juga sedang menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ). Gugatan tersebut menyoroti pemboman tanpa henti, blokade yang memperparah krisis kemanusiaan, dan penolakan Israel terhadap seruan gencatan senjata dari komunitas internasional.

Sistem Kesehatan Gaza Runtuh

Dampak konflik berkepanjangan ini sangat menghancurkan sistem layanan dasar di Gaza. Rumah sakit mengalami kerusakan berat dan kekurangan tenaga medis, obat-obatan, hingga pasokan listrik. Bahkan, beberapa pusat kesehatan terpaksa berhenti beroperasi.

Data dari organisasi kemanusiaan menunjukkan bahwa banyak pasien, termasuk anak-anak, tewas karena tidak mendapat perawatan medis tepat waktu. Kondisi ini menunjukkan bagaimana serangan Israel tidak hanya bersifat militer, tetapi juga menyasar aspek kehidupan sipil dan kemanusiaan.

Kesimpulan: Rakyat Gaza Butuh Tindakan Nyata, Bukan Hanya Simpati

Kondisi di Gaza kini bukan sekadar krisis biasa—ini adalah bencana kemanusiaan berskala besar. Dunia internasional tak bisa terus diam atau hanya sekadar memberikan simpati lewat pernyataan. Dibutuhkan langkah konkret dan berani untuk menekan Israel agar membuka blokade dan menghentikan kekerasan terhadap warga sipil.

Saat truk bantuan pun tak luput dari penjarahan, dan rakyat harus memilih antara kelaparan atau kematian di medan peluru, inilah saatnya dunia bertindak lebih dari sekadar mengutuk.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0