Banjir Bandang Nepal Telan 586 Korban, Ilmuwan Ungkap Alasan Fenomena Ini Nyaris Mustahil Diprediksi

Banjir bandang yang menerjang Nepal dan Tibet pada 26 Agustus 2026 menewaskan 586 orang dan meninggalkan 2.478 lainnya hilang. Para ahli menyebut bencana ini nyaris tak bisa diprediksi karena dipicu runtuhan gletser dan longsor di ketinggian, sementara sistem peringatan dini Nepal masih mengandalkan alat ukur konvensional yang tak dirancang mendeteksi keruntuhan mendadak.

Oct 3, 2026 - 16:01
Oct 3, 2026 - 16:01
 0
Banjir Bandang Nepal Telan 586 Korban, Ilmuwan Ungkap Alasan Fenomena Ini Nyaris Mustahil Diprediksi
Banjir Bandang Nepal Telan 586 Korban, Ilmuwan Ungkap Alasan Fenomena Ini Nyaris Mustahil Diprediksi

Bencana banjir bandang yang melanda Nepal pada Rabu (26/8) berlangsung dalam hitungan detik tanpa peringatan dini apa pun dari pemerintah setempat. Hingga Sabtu (29/8), jumlah korban terus bertambah menjadi 586 orang tewas, sementara 2.478 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Badan Penanggulangan Bencana Nepal mencatat 579 korban jiwa di wilayah Nepal, sedangkan China melaporkan tujuh orang tewas di Tibet.

Lonjakan jumlah orang hilang terjadi sangat drastis dibandingkan laporan sehari sebelumnya. Pada Jumat (28/8), korban hilang tercatat sekitar 1.400 orang, namun sehari kemudian angka itu melesat menjadi 1.924 orang di perbatasan Nepal dan 554 orang di Tibet. Tim SAR Tibet dilaporkan telah mencapai wilayah perbatasan utama yang hancur akibat tanah longsor.

Sejumlah pejabat Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal menduga bencana ini bermula dari runtuhnya massa es dalam jumlah besar, kemungkinan berasal dari gletser, di lereng gunung sisi Tibet. Material tersebut meluncur deras menuruni lereng bersama batu dan sedimen. Pemerintah Nepal menduga runtuhan itu melepaskan air dalam jumlah besar sekaligus memicu aliran material longsoran yang sangat kuat.

Teori lain yang berkembang menyebut material longsoran sempat menyumbat Sungai Lhende dan membentuk bendungan alami. Air yang terus menumpuk di belakang bendungan akhirnya jebol dan mengirim gelombang besar ke wilayah hilir. Namun teori ini belum sepenuhnya terbukti karena bukti penyumbatan sungai dinilai masih terbatas.

Pakar kajian bencana dari Universitas Tribhuvan, Basanta Raj Adhikari, menegaskan tidak ada laporan soal penurunan debit atau ketinggian air Sungai Lhende sebelum banjir datang. Padahal, penurunan permukaan air biasanya menjadi tanda awal jika aliran sungai sempat terbendung di bagian hulu.

Para ahli geologi meyakini banjir bandang di Nepal dan Tibet dipicu kombinasi tanah longsor di ketinggian dan runtuhan salju gletser yang melepaskan volume air besar. Karena itu, peristiwa semacam ini dinilai sangat sulit diprediksi. Sebagian besar sistem pemantauan bahaya terkait gletser hanya berfokus pada area risiko tertentu, seperti ketinggian air di danau gletser rawan banjir.

Eran Hood, profesor ilmu lingkungan di Universitas Alaska, menjelaskan para ilmuwan biasanya mengandalkan pemantauan video waktu nyata, pengukuran ketinggian air dengan laser, dan pengamatan lapangan berkala. Namun untuk kasus Nepal, keruntuhan yang terjadi secara tiba-tiba membuat prediksi jauh lebih rumit karena dibutuhkan pemantauan intensif di wilayah yang sangat luas. Ia menyebut wilayah Himalaya sangat terpencil dan sulit dijangkau drone maupun helikopter.

Menurut laporan tahun 2020 sebuah badan antarpemerintah yang menangani pemantauan wilayah pegunungan, terdapat 2.070 danau glasial di Nepal dan 21 di antaranya berisiko tinggi. Jumlah danau glasial bahkan lebih banyak lagi di kawasan Himalaya yang mencakup Tiongkok dan India. Meski Nepal memiliki sistem peringatan banjir, negara itu masih bergantung pada jaringan konvensional alat pengukur ketinggian air sungai dan danau yang tidak dirancang memberi peringatan dini atas keruntuhan mendadak di bagian gunung.

Di tengah situasi tersebut, Pemerintah Nepal kembali mengeluarkan peringatan akan risiko banjir baru. Warga diminta pindah ke area yang lebih tinggi setelah sebuah bendungan di Tibet dilaporkan jebol.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0