Banjir Bandang Himalaya Tewaskan 586 Orang, Jasad Korban Ditemukan Terbawa Arus Sampai India

Banjir bandang dan longsoran gletser di kawasan Gunung Himalaya, Nepal dan China, menewaskan 586 orang dan membuat lebih dari 2.400 orang hilang. Sejumlah jasad korban ditemukan terseret arus hingga ke India. Tim penyelamat berpacu mengevakuasi korban selamat di tengah ancaman banjir susulan dan minimnya pasokan makanan serta air.

Oct 3, 2026 - 12:02
Oct 3, 2026 - 12:02
 0
Banjir Bandang Himalaya Tewaskan 586 Orang, Jasad Korban Ditemukan Terbawa Arus Sampai India
Banjir Bandang Himalaya Tewaskan 586 Orang, Jasad Korban Ditemukan Terbawa Arus Sampai India

Tim penyelamat di Nepal dan China masih berjuang mencari lebih dari 2.400 orang yang hilang akibat banjir bandang dan longsoran gletser yang menerjang kawasan Gunung Himalaya. Hingga Jumat (28/8) malam, jumlah korban tewas tercatat mencapai 586 orang, dan sebagian jasad ditemukan terseret arus hingga masuk ke wilayah India.

Otoritas penanggulangan bencana Nepal menambahkan 933 pekerja pembangkit listrik tenaga air ke dalam daftar orang hilang. Sebelumnya, daftar tersebut sudah memuat para pendaki serta peziarah yang menuju Gunung Kailash, lokasi suci di Tibet.

Para korban selamat mengaku kehilangan seluruh harta benda dan kini menunggu dengan cemas kabar tentang keluarga yang belum ditemukan. "Semua permukiman di dekat sungai tersapu. Tidak ada yang tersisa," ujar Buddhi Ram Dangol, seorang penyintas, kepada AFP.

Upaya evakuasi terus dilakukan karena persediaan makanan dan air di wilayah terdampak kian menipis. Namun, proses pencarian terganggu oleh kekhawatiran akan banjir susulan. Luapan air yang membawa bongkahan es dan lumpur membentuk danau-danau besar, dan salah satunya menjadi ancaman langsung bagi para petugas di lapangan.

Polisi Nepal meminta seluruh tim penyelamat segera pindah ke lokasi aman setelah muncul laporan bahwa bendungan air kembali jebol di sisi Tibet dan banjir susulan bisa terjadi kapan saja. Di Tibet, otoritas China sempat menghentikan operasi penyelamatan di Gyirong, wilayah paling parah terdampak, sebelum menyatakan ancaman telah mereda. Kantor berita Xinhua melaporkan dua warga desa berhasil diselamatkan di wilayah itu pada Sabtu pagi.

Di sisi perbatasan Nepal, militer menemukan orang-orang yang terjebak di dalam terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air Trishuli 3A. Juru bicara militer Raja Ram Basnet mengatakan dua helikopter telah dikerahkan, tetapi situasi sulit karena menemukan titik masuk terowongan saja sangat berat. Sekitar 350 pekerja dan warga telah dievakuasi ke tempat aman, sementara lebih dari 100 orang masih terjebak di kawasan yang sama.

Buddha Tamang, seorang pekerja, mengaku selamat karena sedang berada di dalam terowongan bendungan tempatnya bekerja saat banjir menerjang. "Para pejabat senior yang bekerja di sisi lain, mereka semua tersapu," katanya. Ia dievakuasi dengan helikopter pada Kamis setelah terisolasi lebih dari 24 jam.

Sejumlah negara telah menawarkan bantuan. Kanada akan memberikan bantuan kemanusiaan senilai US$3,6 juta atau sekitar Rp63,9 miliar, sedangkan Uni Eropa menjanjikan bantuan US$2,3 juta atau sekitar Rp40,8 miliar untuk mendukung upaya darurat di Nepal.

Banjir bandang dan tanah longsor menyapu Nepal pada Rabu (26/8). Laporan awal menyebut bencana dipicu gempa bumi yang menyebabkan longsoran es dan batuan di Sungai Lhende Khola, sungai yang melintasi Nepal dan Tibet. Namun, analisis Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menunjukkan tidak ada gempa bumi sebelum insiden tanah longsor dan banjir bandang terjadi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0