Zhu Rongji, PM China yang Siapkan 100 Peti Mati untuk Koruptor, Tutup Usia

Zhu Rongji, Perdana Menteri China kelima yang dikenal sebagai reformis ekonomi dan keras terhadap korupsi, meninggal dunia pada usia 97 tahun di Beijing. Ia berjasa membawa China masuk WTO dan dijuluki 'pabrik dunia'.

Aug 17, 2026 - 02:36
Aug 17, 2026 - 02:36
 0
Zhu Rongji, PM China yang Siapkan 100 Peti Mati untuk Koruptor, Tutup Usia
Zhu Rongji, PM China yang Siapkan 100 Peti Mati untuk Koruptor, Tutup Usia

Jakarta, CNN Indonesia -- Zhu Rongji, Perdana Menteri kelima China yang dikenal sebagai reformis ekonomi paling efektif sejak berdirinya negara itu pada 1949, meninggal dunia pada Rabu (12/8) di Beijing dalam usia 97 tahun. Kabar duka ini menandai berakhirnya era kepemimpinan salah satu tokoh kunci dalam transformasi ekonomi China.

Zhu menjabat sebagai perdana menteri pada periode 1998-2003. Sebelumnya, pada 1991, ia dipanggil ke Beijing untuk membantu mengelola ekonomi China di tengah gejolak pasca-peristiwa 1989 dan runtuhnya Uni Soviet. Ia kemudian menjabat sebagai wakil perdana menteri dan gubernur Bank Rakyat Tiongkok (1993-1995), dengan tugas berat mengarahkan ekonomi negara di masa transisi yang kritis.

Dikenal blak-blakan dan tegas, Zhu menerapkan reformasi kontroversial untuk memperbaiki sektor milik negara yang tidak efisien serta memodernisasi infrastruktur. Pada akhir 1990-an, ia berhasil mengubah China menjadi "pabrik dunia", status yang masih bertahan hingga kini. Sikapnya yang keras terhadap korupsi membuatnya populer, bahkan ia pernah memecat gubernur Heilongjiang di tempat karena gagal mencapai target pertumbuhan.

Salah satu pernyataannya yang paling terkenal, diucapkan pada 1998, adalah, "Saya telah menyiapkan 100 peti mati di sini - 99 untuk pejabat korup dan satu untuk diri saya sendiri." Pernyataan ini, yang dikutip oleh People's Daily, membuatnya dijuluki "Sang Bos" dan menjadi simbol komitmennya terhadap pemberantasan korupsi.

Pencapaian terbesarnya sebagai perdana menteri adalah mengamankan masuknya China ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Proses negosiasi yang dimulai sejak 1986 ini berlangsung lebih dari satu dekade dan melibatkan perjanjian dengan Uni Eropa, AS, dan puluhan negara lain. Pada 1999, kesepakatan dengan AS hampir selesai, namun batal karena masalah domestik Presiden Bill Clinton terkait skandal Monica Lewinsky.

Zhu sering dijuluki "Gorbachev-nya China", meskipun ia tidak menyukai julukan itu. Meski mengalami penderitaan di masa lalu, ia tetap setia pada Partai Komunis dan fokus pada stabilitas serta pertumbuhan ekonomi China. Setelah pensiun, ia jarang tampil di publik, terakhir terlihat saat dirawat di rumah sakit pada 2020. Zhu meninggalkan istri, Lao An, serta seorang putra dan putri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0