Rote Ndao Disiapkan Jadi Lumbung Garam Nasional, Produksi Ditargetkan Mulai 2026
Pemerintah mengembangkan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (KSIGN) di Rote Ndao, NTT, untuk menekan ketergantungan pada garam impor. Tahap II mencakup 751,32 hektare, dengan total kawasan 1.368,25 hektare dan potensi hingga 10.764 hektare. Produktivitas ditargetkan 200 ton per hektare per tahun dengan kadar NaCl 97 persen, dan produksi dijadwalkan mulai September 2026.
Pemerintah terus mematangkan pengembangan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (KSIGN) di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, sebagai upaya menuju swasembada garam. Proyek ini diharapkan mampu menekan ketergantungan terhadap garam impor sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga setempat.
Pembangunan KSIGN saat ini memasuki Tahap II dengan pengembangan lahan seluas 751,32 hektare. Jika digabung dengan Tahap I, total kawasan yang telah dibangun pemerintah mencapai 1.368,25 hektare. Kawasan ini bahkan berpotensi diperluas hingga 10.764 hektare melalui kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta.
KSIGN dirancang sebagai kawasan industri garam modern dan terintegrasi. Produktivitasnya ditargetkan mencapai 200 ton per hektare per tahun dengan kadar NaCl hingga 97 persen, sehingga diharapkan mampu memenuhi kebutuhan garam untuk industri maupun konsumsi dalam negeri.
Fasilitas yang telah ditinjau pemerintah mencakup tambak garam modern dan Gudang Garam Nasional berkapasitas 10.000 ton. Pemerintah menargetkan produksi garam di kawasan tersebut mulai berjalan pada September 2026.
Komitmen ini ditegaskan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, saat meninjau KSIGN. Ia menilai Indonesia yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia seharusnya mampu memenuhi kebutuhan garam secara mandiri. Menurut Zulhas, sapaan akrabnya, industri garam modern menjadi langkah strategis agar nilai ekonomi komoditas tersebut dinikmati masyarakat dalam negeri. Pembangunan kawasan ini juga merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kedaulatan pangan.
"Kalau terus impor, nilai ekonominya mengalir ke negara lain. Padahal kita memiliki potensi luar biasa. Sudah saatnya masyarakat pesisir menjadi pelaku utama yang menikmati kekayaan alam Indonesia," ujarnya seperti dikutip dari detikcom, Sabtu (17/10).
Dalam peninjauan tersebut, Zulhas didampingi Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono serta Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto. Wakil Ketua Komisi IV DPR Daniel Johan dan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena juga turut hadir.
KSIGN juga disiapkan untuk menyerap tenaga kerja lokal. Kementerian Kelautan dan Perikanan akan menyiapkan pelatihan dan sertifikasi agar masyarakat terampil mengelola industri garam modern. Warga Rote Ndao, Nixon, mengaku optimistis kehadiran KSIGN akan mengubah masa depan daerahnya.
"Kami bersyukur karena Rote dipilih menjadi kawasan industri garam nasional. Anak-anak muda nanti tidak perlu jauh mencari pekerjaan. Kami ingin garam dari Rote bisa memenuhi kebutuhan Indonesia dan menjadi kebanggaan daerah kami," ucapnya.
Zulhas berharap seluruh pemangku kepentingan menjaga kawasan itu sebagai investasi jangka panjang bagi bangsa. Ia menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah, aparat, dan masyarakat. Dalam Testimoni Pembangunan K-SIGN Rote Ndao, ia menulis agar proyek itu dirawat bersama untuk kemakmuran rakyat NTT, sementara Yandri menulis tentang garam rakyat yang membangun desa.
"Kalau kawasan ini berhasil, bukan hanya Rote yang maju. Indonesia akan semakin mandiri memenuhi kebutuhan garamnya, impor bisa terus ditekan, ekonomi daerah tumbuh, dan masyarakat pesisir memperoleh manfaat yang nyata," pungkas Zulhas.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)