Pakar Bantah Erupsi Gunung Api di Indonesia Hasil Rekayasa Teknologi: Energi Magma Tak Terjangkau Manusia

Pakar kebencanaan Daryono membantah narasi yang mengaitkan erupsi sejumlah gunung api di Indonesia dengan rekayasa teknologi atau senjata buatan manusia. Menurutnya, erupsi adalah proses alamiah dari dinamika internal Bumi dengan energi yang jauh melampaui kemampuan teknologi manusia, dan aktivitas vulkanik Indonesia berkaitan erat dengan posisi di Cincin Api.

Oct 4, 2026 - 08:02
Oct 4, 2026 - 08:02
 0
Pakar Bantah Erupsi Gunung Api di Indonesia Hasil Rekayasa Teknologi: Energi Magma Tak Terjangkau Manusia
Pakar Bantah Erupsi Gunung Api di Indonesia Hasil Rekayasa Teknologi: Energi Magma Tak Terjangkau Manusia

Pakar kebencanaan Daryono menepis anggapan yang mengaitkan erupsi sejumlah gunung api di Indonesia belakangan ini dengan rekayasa teknologi maupun senjata buatan manusia. Menurutnya, tudingan tersebut sama sekali tidak masuk akal secara ilmu kebumian karena erupsi merupakan proses alamiah akibat dinamika internal Bumi dengan energi yang sangat besar.

"Tudingan bahwa fenomena erupsi beberapa gunung api di Indonesia disebabkan oleh rekayasa teknologi atau senjata konspirasi sama sekali tidak masuk akal secara ilmu kebumian," kata Daryono dalam keterangan tertulis, Senin (7/9).

Daryono menjelaskan, energi yang menggerakkan aktivitas vulkanik berasal dari dinamika mantel Bumi pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer di bawah permukaan. Erupsi terjadi ketika magma bergerak naik karena densitasnya lebih rendah dibandingkan batuan di sekitarnya, disertai akumulasi tekanan dari gas seperti uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida. Tekanan di kantong magma bahkan dapat mencapai ratusan megapascal.

Karena itu, tidak ada teknologi berbasis gelombang elektromagnetik maupun ledakan buatan manusia yang mampu menembus jauh ke dalam kerak Bumi dan mengubah tekanan di dalam sistem magma secara sengaja. "Manusia tidak memiliki sumber energi yang cukup besar untuk merekayasa pergerakan jutaan meter kubik magma bersuhu hingga 1.200 derajat Celsius," ujarnya.

Menurut Daryono, aktivitas vulkanik yang intens di Indonesia berkaitan dengan posisi geografis negara ini di jalur Cincin Api atau Ring of Fire. Indonesia berada di kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik utama, antara lain Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina. Penunjaman lempeng samudra ke bawah lempeng lain membawa material, termasuk air dan sedimen, menuju kedalaman Bumi, memicu pelelehan batuan di mantel dan menghasilkan suplai magma dalam rentang waktu sangat panjang.

Daryono menambahkan, beberapa gunung api dapat menunjukkan peningkatan aktivitas dalam waktu berdekatan ketika sistem magmanya masing-masing berada dalam kondisi kritis. Hal itu bisa terjadi antara lain akibat aktivitas tektonik regional atau penyesuaian tegangan di kerak Bumi setelah gempa besar. Namun, fenomena tersebut tetap merupakan proses tektonik alamiah, bukan akibat campur tangan teknologi manusia.

Lebih lanjut, Daryono menegaskan bahwa aktivitas magma sebenarnya dapat dipantau melalui sejumlah parameter geofisika sebelum erupsi. Pergerakan magma dapat memicu gempa vulkanik dalam, gempa vulkanik dangkal, maupun tremor akibat rekahan batuan saat magma bergerak menuju permukaan. Instrumen geodesi seperti GPS dan tiltmeter juga merekam deformasi tubuh gunung api akibat tekanan dari bawah permukaan, sementara pemantauan dapat mendeteksi perubahan komposisi gas dan peningkatan suhu.

"Erupsi tidak pernah terjadi secara mendadak melalui tombol kendali otomatis, melainkan diawali oleh rekaman seismisitas berupa gempa vulkanik dalam dan dangkal serta tremor akibat rekahan batuan saat magma bergerak naik," tuturnya. Proses akumulasi massa dan energi di dalam sistem vulkanik sendiri dapat berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Daryono juga menyebut lapisan batuan padat di kerak Bumi meredam gelombang elektromagnetik sehingga sinyal buatan manusia tidak memiliki mekanisme fisik untuk menggerakkan magma yang berada jauh di bawah permukaan. Dengan demikian, ia menilai narasi yang mengaitkan erupsi gunung api dengan teknologi buatan manusia sebagai bentuk disinformasi yang mengabaikan proses dasar geologi. Aktivitas vulkanik Indonesia, katanya, merupakan konsekuensi dari dinamika geologi Bumi yang terus berlangsung.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0