Mantan Asisten Dalai Lama: Dominasi China di Tibet Tak Akan Abadi, Ini Alasannya
Mantan asisten pribadi Dalai Lama, Khedroob Thondup, menilai kebijakan China di Tibet menghadapi tantangan jangka panjang. Meski Beijing menguasai wilayah tersebut, tekanan terhadap identitas lokal justru dapat memicu persoalan di masa depan. Thondup menyoroti suksesi Dalai Lama sebagai isu sensitif dan menegaskan identitas Tibet memiliki daya tahan kuat.
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan asisten pribadi Dalai Lama, Khedroob Thondup, menyatakan bahwa tidak ada kekuatan politik yang mampu mempertahankan dominasinya secara permanen. Pernyataan ini disampaikannya di tengah sorotan terhadap kebijakan asimilasi yang diterapkan China di Tibet.
Menurut Thondup, Partai Komunis China (PKC) telah membangun strategi komprehensif untuk mengintegrasikan Tibet melalui pembangunan infrastruktur, pengawasan keamanan, penempatan militer, serta kebijakan yang mendorong perubahan identitas sosial dan budaya. Beijing memandang Tibet bukan hanya sebagai wilayah politik, tetapi juga kawasan strategis bagi keamanan nasional, sumber daya ekonomi, dan kepentingan geopolitik.
Thondup menyebut kebijakan tersebut mencakup upaya memperkuat Sinicization atau pembauran ke dalam identitas China, termasuk terhadap kehidupan keagamaan masyarakat Tibet. Namun, ia menilai tekanan berlebihan terhadap identitas lokal tidak selalu menghasilkan stabilitas jangka panjang. "Rezim otoriter sering kali keliru menganggap keheningan sebagai stabilitas," ujarnya.
Salah satu persoalan paling sensitif yang disoroti Thondup adalah suksesi Dalai Lama. Beijing dan otoritas keagamaan Tibet memiliki pandangan berbeda mengenai proses penentuan penerus pemimpin spiritual tersebut. Thondup menilai setiap upaya Beijing untuk mengendalikan proses reinkarnasi Dalai Lama berpotensi menghadapi persoalan legitimasi di mata masyarakat Tibet.
"Pertanyaan mengenai reinkarnasi Dalai Lama menjadi semakin penting. Setiap upaya Beijing untuk mengendalikan proses tersebut berisiko menghadapi ketidakabsahan permanen di mata masyarakat Tibet," ucapnya. Menurutnya, kekuasaan politik tidak selalu mampu menggantikan legitimasi budaya dan keagamaan yang telah terbentuk selama berabad-abad.
Thondup memperkirakan Beijing akan terus meningkatkan pengawasan, penegakan keamanan, serta kebijakan yang mendorong perubahan demografis dan sosial di Tibet dalam jangka pendek. Namun, ia menilai identitas Tibet memiliki daya tahan yang tidak mudah dihapus. "Peradaban Tibet telah bertahan selama berabad-abad menghadapi tekanan dari luar. Gravitasi budayanya tetap bertahan, bahkan di bawah tekanan," tulisnya.
Ia menggunakan pengalaman imperium besar seperti Romawi, Ottoman, dan Kerajaan Inggris untuk menggambarkan keterbatasan kekuasaan politik. Menurutnya, dominasi politik tidak pernah bersifat permanen, dan kontradiksi internal maupun perubahan lingkungan geopolitik pada akhirnya dapat menguji ketahanan suatu sistem.
Dalam konteks Tibet, Thondup menilai masa depan wilayah tersebut bergantung pada bagaimana PKC mengelola ketegangan antara keamanan nasional, pembangunan ekonomi, integrasi politik, dan keberlangsungan identitas lokal. "Kisah Tibet bukanlah kisah tentang menghilangnya sebuah identitas, melainkan tentang ketahanan-sebuah pengingat bahwa identitas, keyakinan, dan budaya sering kali bertahan lebih lama daripada struktur yang berusaha menghapusnya," pungkasnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0