Indonesia-Malaysia Sepakat, 1.000 Ton Beras Segera Dikirim ke Sarawak
Indonesia dan Malaysia menandatangani MoU ekspor beras 1.000 ton ke Sarawak, dengan pengiriman bertahap mulai pekan ini. Harga disepakati RM3,9/kg (sekitar Rp17 ribu). Potensi ekspor mencapai 200 ribu ton per tahun senilai Rp3,39 triliun. Menteri Pertanian Amran memastikan stok dalam negeri aman.
Jakarta – Indonesia resmi menyepakati ekspor beras sebanyak 1.000 ton ke Malaysia. Pengiriman perdana direncanakan berlangsung secara bertahap mulai pekan ini, sebagai langkah awal memenuhi kebutuhan beras di Sarawak yang mencapai 200 ribu ton per tahun.
Kesepakatan ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Perum Bulog dan perusahaan asal Malaysia, Padi dan Beras Borneo Sdn Bhd. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman turut menyaksikan langsung proses penandatanganan yang mencakup rencana ekspor beras premium komersial tersebut.
Dalam konferensi pers di kediamannya, Jakarta Selatan, Jumat (14/8), Amran mengungkapkan bahwa pengiriman 1.000 ton pertama akan dilakukan bertahap. Harga beras yang disepakati mencapai 3,9 ringgit Malaysia atau sekitar Rp17 ribu per kilogram. "Kalau ekspor ini kalau bisa minggu ini diberangkatkan 1.000 ton secara bertahap karena kebutuhan Sarawak saja 200 ribu ton. Dan untuk satu Malaysia 1,5 (juta) sampai 1,7 juta ton per tahun," ujarnya.
Beras yang diekspor merupakan beras premium dengan tingkat pecah 5 persen. Pengiriman awal akan melalui perbatasan Entikong, Kalimantan Barat. General Manager Padi dan Borneo Sdn Bhd, Jumaat bin Ibrahim, mengatakan beras impor dari Indonesia akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan Sarawak selama satu tahun. "Kalau di Sarawak itu kita akan ekspor 200 ribu ton (dari Indonesia) dan untuk pertama kita akan order 1.000 ton dahulu dan kita akan menggunakan border Entikong untuk simboliknya untuk penghantaran yang pertama," jelasnya.
Amran memastikan ekspor ini tidak akan mengganggu stok beras dalam negeri. Ia merujuk pada data produksi dan stok yang dikelola Bulog. Produksi beras hingga Oktober diperkirakan mencapai 30 juta ton, sementara stok yang tersedia sekitar 25-26 juta ton. Dengan kebutuhan nasional 2,5-2,6 juta ton per bulan, stok tersebut cukup untuk 10 bulan ke depan. "Cukup aman (stok beras Indonesia). Justru kita ini serap terus nih posisi hari ini masih 5,2 juta (ton). Tidak pernah terjadi selama Republik ini merdeka kalau bulan Agustus saya sudah kan 8 tahun di kabinet, kalau Agustus biasanya itu paling tinggi 1,5 juta 2 juta maksimal ini 5 juta jadi aman," paparnya.
Setelah kesepakatan dengan Malaysia, pemerintah masih membidik peluang ekspor ke negara lain, termasuk Singapura. Target ekspor disebut bisa mencapai 1 juta ton, namun realisasinya akan disesuaikan dengan produksi dan kondisi cuaca. "Mudah-mudahan kita bisa kirim secepatnya tetapi 1.000 (ton) ini kita minta mudah-mudahan bisa dikapalkan dalam minggu ini karena berasnya ada. Nilainya Rp3,39 triliun kalau 200 ribu ton. Tetapi harapan kita kalau bisa kita rebut yang 1 juta," kata Amran.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0