Fenomena Kamp Kesulitan di China, Orang Tua Bayar Rp26 Juta agar Anak Merasakan Hidup Susah
Sejumlah orang tua di China membayar hingga 10.000 yuan atau sekitar Rp26 juta untuk mengirim anak ke kamp kesulitan. Anak-anak dilatih melakukan pekerjaan kasar seperti memotong kayu dan memberi pakan babi agar belajar menghargai hidup. Program ini menuai pro dan kontra di media sosial.
Sejumlah orang tua di China bersedia mengeluarkan biaya besar, mencapai 10.000 yuan atau setara Rp26 juta, demi mengirim anak-anak mereka ke kamp khusus yang mengajarkan kerasnya kehidupan. Program yang dikenal sebagai kamp kesulitan ini dilaporkan South China Morning Post (SCMP) dan menyebar luas di media sosial.
Kamp-kamp tersebut tersebar di sejumlah provinsi barat daya China seperti Sichuan, Guizhou, dan Yunnan. Wilayah ini dipilih karena iklimnya yang relatif nyaman selama musim panas, sehingga anak-anak bisa menjalani aktivitas luar ruangan dengan lebih aman.
Selama mengikuti program, anak-anak tidak hanya belajar di ruang kelas. Mereka diterjunkan langsung ke sawah dan perkebunan untuk menjalani pekerjaan sehari-hari para petani, mulai dari menggali dan menjual kentang, mengupas kulit kayu, hingga memberi makan ternak.
Biaya yang dipatok pun bervariasi. Salah satu kamp menawarkan paket pengalaman 10 hari dengan tarif sekitar 4.000 yuan atau setara Rp10 juta. Sementara itu, masa inap selama satu bulan dikenakan biaya lebih dari 10.000 yuan atau sekitar Rp26 juta.
Aturan di kamp ini terbilang ketat. Anak-anak yang gagal menyelesaikan tugas yang diberikan bisa dihukum dengan hanya makan kentang sepanjang hari. Ponsel mereka juga disita selama program berlangsung, dan kebutuhan mereka diberikan sesuai jumlah tugas yang berhasil diselesaikan.
Pihak penyelenggara menyatakan tujuan utama perkemahan ini adalah menanamkan pemahaman tentang sulitnya mencari nafkah. Meski demikian, panitia meyakinkan orang tua bahwa aktivitas di kamp tidak akan sesulit yang dibayangkan.
Video-video yang beredar viral memperlihatkan sejumlah anak menangis dan memohon untuk dipulangkan karena tidak betah. Beberapa di antaranya bahkan bersedia mengerjakan pekerjaan rumah apa pun asalkan tidak bertani. Di beberapa kamp, anak-anak diminta menulis surat kepada orang tua tentang kegiatan yang mereka jalani.
Seorang staf kamp mencatat bahwa orang tua sering kali tersentuh oleh video dan surat dari anak-anak mereka, sehingga merekomendasikan kegiatan ini kepada orang tua lainnya. Respons warganet pun beragam, ada yang mengapresiasi karena dinilai mampu mengajarkan anak menghargai kehidupan, namun tidak sedikit pula yang memperingatkan agar anak tidak dibebani secara berlebihan karena dapat berdampak buruk pada perkembangan fisik dan mental mereka.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)