Bahlil Tantang Realisasi Transaksi TEI 2026 Tembus Rp313 Triliun, Minta Prosedur Ekspor Dipangkas

Menteri Bahlil Lahadalia meminta transaksi Trade Expo Indonesia 2026 melampaui target US$17,5 miliar atau sekitar Rp313,31 triliun. Ia juga mendesak penyederhanaan prosedur ekspor, termasuk persetujuan teknis yang dinilai menghambat, serta perluasan akses pasar ke Afrika, Amerika Latin, Asia Selatan, dan Eropa Timur.

Oct 14, 2026 - 12:03
Updated: 18 hours ago
0 0
Bahlil Tantang Realisasi Transaksi TEI 2026 Tembus Rp313 Triliun, Minta Prosedur Ekspor Dipangkas
Bahlil Tantang Realisasi Transaksi TEI 2026 Tembus Rp313 Triliun, Minta Prosedur Ekspor Dipangkas

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang juga menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menargetkan nilai transaksi Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 menembus US$17,5 miliar atau setara Rp313,31 triliun dengan asumsi kurs Rp17.905 per dolar AS. Target itu ia sampaikan saat membuka TEI 2026 di ICE BSD, Tangerang, Rabu (14/10).

Bahlil mengungkapkan bahwa target tahun ini justru lebih rendah dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. Pada 2025, target transaksi ditetapkan di atas US$16 miliar atau sekitar Rp286,64 triliun, namun realisasinya melampaui target hingga mencapai US$22,8 miliar atau sekitar Rp408,46 triliun. Karena itu, ia berharap capaian tahun ini bisa melampaui pencapaian sebelumnya seiring meningkatnya daya saing produk nasional, perluasan akses pasar, serta minat pembeli dan mitra dagang internasional.

Dari sisi peserta, Bahlil menyebut sebanyak 16.885 calon pembeli telah terdaftar untuk mengikuti TEI 2026. Sebanyak 8.092 di antaranya merupakan pembeli luar negeri yang berasal dari 134 negara. Menurutnya, pameran dagang ini menjadi salah satu sarana penting untuk memperluas akses pasar sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Selain mengejar nilai transaksi, Bahlil meminta pemerintah memangkas berbagai prosedur teknis yang dinilai menghambat ekspor. Ia secara khusus menyoroti persetujuan teknis (pertek) yang kerap memperlambat kegiatan perdagangan. "Prosedur ekspor jangan berbelit-belit. Pertek-pertek yang menghambat harus segera disimplifikasi untuk kemajuan ekspor," kata Bahlil.

Ia juga menekankan pentingnya akses pembiayaan ekspor dan asuransi dengan biaya yang terjangkau bagi para eksportir. Menurutnya, dukungan pembiayaan menjadi salah satu kunci agar produk Indonesia mampu bersaing di pasar global.

Dalam hal perluasan pasar, Bahlil mendorong pembukaan akses ke kawasan Afrika, Amerika Latin, Asia Selatan, dan Eropa Timur melalui perjanjian perdagangan bebas. Ia meminta perjanjian perdagangan yang sudah berlaku dimanfaatkan secara maksimal oleh eksportir Indonesia, bukan sekadar ditandatangani.

"Setiap perjanjian perdagangan internasional harus konkret dan langsung berdampak pada rakyat. Jangan hanya teken-teken MoU, tapi harus bisa direalisasikan MoU tersebut," ujarnya. Pemerintah juga dinilai perlu meningkatkan promosi produk Indonesia secara intensif di negara tujuan ekspor, termasuk melalui pembukaan pusat-pusat promosi.

Pada kesempatan itu, Bahlil menyampaikan selamat kepada para eksportir penerima penghargaan Primaniyarta dan pembeli internasional penerima penghargaan Primaduta. Ia turut mengapresiasi kepala daerah dan kepala perwakilan yang berperan mendorong ekspor Indonesia. Bahlil berharap TEI 2026 dapat berkontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional melalui peningkatan transaksi perdagangan dan perluasan pasar ekspor.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User