AI Disalahgunakan hingga Perang Nuklir, Studi Peringatkan Risiko Kiamat pada 2100

Studi The Lancet Commission menempatkan penyalahgunaan AI dan perang nuklir sebagai dua ancaman teratas yang berpotensi memicu kepunahan manusia pada 2100. Keduanya masuk dalam 17 ancaman kesehatan global abad ke-21, mulai dari polusi udara hingga resistensi antimikroba. Para ahli mendesak langkah antisipasi dan investasi teknologi sebelum risiko meningkat menjadi krisis.

Oct 14, 2026 - 12:03
Updated: 17 hours ago
0 0
AI Disalahgunakan hingga Perang Nuklir, Studi Peringatkan Risiko Kiamat pada 2100
AI Disalahgunakan hingga Perang Nuklir, Studi Peringatkan Risiko Kiamat pada 2100

Sebuah studi terbaru dari The Lancet Commission on 21st Century Global Threats to Health menyebut penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI) dan perang nuklir sebagai dua ancaman paling serius yang berpotensi mengakhiri peradaban manusia pada tahun 2100. Keduanya menempati urutan teratas dari 17 ancaman utama terhadap kesehatan manusia di abad ke-21.

Laporan tersebut memperingatkan bahwa jika ancaman-ancaman ini benar-benar terjadi dan menimbulkan kerusakan besar, dampaknya bisa memicu kepunahan umat manusia. "Penyalahgunaan AI, termasuk senjata biologis, serta konflik nuklir membawa risiko kepunahan dalam 75 tahun ke depan," demikian bunyi laporan itu, seperti dikutip dari The Guardian.

Meski peluangnya tergolong rendah, para peneliti menilai konflik nuklir dapat menghalangi sinar Matahari sehingga memicu kelaparan massal. Sementara itu, senjata biologis yang dikembangkan dengan AI berpotensi menyebabkan kematian dalam jumlah besar.

Direktur Institute for Health Metrics and Evaluation University of Washington, Christopher Murray, yang juga memimpin komisi tersebut, mengungkapkan bahwa proses kajian ini dimulai tiga tahun lalu. "Kami memulai proses ini tiga tahun lalu, dengan berpikir bahwa ada tiga ancaman besar: konflik, iklim, dan pandemi," ujarnya.

Selain penyalahgunaan AI dan perang nuklir, daftar 17 ancaman besar itu mencakup polusi udara, resistensi antimikroba, kekurangan gizi pada anak, kerusakan iklim, konflik konvensional, penurunan bantuan luar negeri, penggunaan alkohol, tekanan darah tinggi, ketidaksetaraan pendapatan, pencapaian pendidikan rendah, pandemi alamiah, obesitas, kesehatan mental buruk, merokok, dan penuaan tidak sehat.

Para ahli menegaskan bahwa setiap ancaman saling berinteraksi sehingga penanganannya harus dilakukan secara bersamaan. Mereka juga menawarkan solusi berupa jalur realistis untuk mengatasi masing-masing risiko. "Keputusan yang dibuat oleh para pemimpin hari ini akan membentuk kesehatan dan kesejahteraan generasi mendatang," kata Murray.

Dalam laporan tersebut, pemodelan skenario terbaik dan terburuk menunjukkan bahwa upaya membatasi pemanasan global hingga sekitar 1,8 derajat Celsius, alih-alih membiarkannya mencapai 4,4 derajat Celsius, dapat mencegah hilangnya 1,89 miliar tahun hidup sehat. Di wilayah berpenghasilan tinggi, penyakit tidak menular seperti obesitas dan masalah kesehatan mental menjadi ancaman utama, sedangkan di wilayah berpenghasilan rendah, rendahnya tingkat pendidikan dan kekurangan gizi anak menjadi persoalan dominan.

Laporan juga menyoroti dampak pemotongan bantuan kesehatan internasional oleh negara-negara seperti Amerika Serikat dan Inggris. Pengurangan tersebut diperkirakan menyebabkan hingga 1,5 miliar DALY (disability-adjusted life years) sebelum tahun 2100, dengan hampir 70 persen di antaranya terjadi di Afrika sub-Sahara.

Profesor epidemiologi penyakit menular di University College London, Ibrahim Abubakar, menegaskan bahwa laporan ini tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti. "Kami memulai dari premis bahwa jika Anda adalah pembuat kebijakan saat ini, baik di tingkat global maupun nasional, ini adalah daftar potensi ancaman yang dapat Anda hadapi, dan inilah besarnya dampak yang dapat Anda berikan jika Anda bertindak," ujarnya.

Temuan Komisi Lancet ini dipresentasikan pada Minggu (11/10) di KTT Kesehatan Dunia di Berlin, Jerman. Penilaian akan diperbarui setiap tahun dengan memasukkan data baru dan bahaya yang muncul. Para ahli mendesak penanganan risiko melalui antisipasi, pencegahan, dan persiapan, termasuk investasi dalam inovasi teknologi serta penguatan sistem kesehatan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User