Bahlil Resmikan Kilang LPG Cilamaya Rp645 M, Produksi 160 Ton per Hari Tekan Impor
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meresmikan Kilang LPG Cilamaya di Karawang, Jawa Barat, dengan investasi US$36 juta atau sekitar Rp645,7 miliar. Kilang ini memproduksi 160 ton LPG per hari untuk menekan impor dan mendukung ketahanan energi nasional, di tengah konsumsi LPG nasional yang mencapai 8,5 juta ton per tahun.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meresmikan Kilang LPG Cilamaya yang dibangun PT Energi Nusantara Perkasa (ENP) bersama PT Euroasiatic Jaya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10). Fasilitas pengolahan gas ini menelan investasi US$36 juta atau setara Rp645,7 miliar dengan asumsi kurs Rp17.940 per dolar AS.
Kilang tersebut dirancang mampu memproduksi LPG hingga 160 ton per hari. Kehadirannya diharapkan memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan angka impor LPG yang selama ini membebani anggaran negara.
Bahlil menilai pembangunan kilang ini krusial di tengah dinamika geopolitik global yang tidak menentu. Ia menyoroti sejumlah konflik internasional yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi dunia, sehingga efisiensi produksi dalam negeri menjadi semakin mendesak.
"Perang antara Israel-Palestine, Israel-Amerika dan Iran, perang antara Ukraina-Rusia, sekarang melebar ke Arab Saudi, ini melahirkan ketidakpastian tentang energi. Hampir semua dunia sekarang berpikir tentang bagaimana bisa mengamankan sektor energi mereka dari dalam negeri mereka masing-masing. Ini tantangan kita," ujar Bahlil dalam acara peresmian.
Ia memaparkan konsumsi LPG nasional saat ini menembus 8,5 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 1,8 juta ton. Kondisi itu membuat Indonesia harus mengimpor sekitar 7 hingga 8 juta ton per tahun.
Tingginya impor tersebut turut memperbesar beban subsidi LPG dalam APBN. Menurut Bahlil, ketika harga minyak mentah Indonesia (ICP) berada di level US$70 per barel, subsidi LPG mencapai Rp87 triliun. Namun saat ICP rata-rata bergerak di kisaran US$90 hingga US$100 per barel, subsidi melonjak mendekati Rp100 triliun.
Dengan kapasitas produksi yang ada, Kilang LPG Cilamaya disebut mampu memasok hingga 15 persen kebutuhan harian LPG masyarakat di wilayah Jawa Barat dan DKI Jakarta. Bahlil menyebut kontribusi itu sebagai langkah besar meski dimulai dari skala kecil.
"Kalau 1.000 sampai 1.500 ton per hari hari ini kita bisa melakukan sekitar 160 ton, itu berarti kan 10 sampai 15 persen konsumsi LPG di Jawa Barat dan DKI Jakarta dipenuhi dari kilang ini. Ini kontribusi besar. Kita berangkat dari hal kecil untuk mencapai hal besar," imbuhnya.
Direktur Utama PT Energi Nusantara Perkasa Sarjono menjelaskan kilang ini dibangun dengan teknologi kombinasi mechanical refrigerated dan turbo expander untuk mengoptimalkan ekstraksi gas. Fasilitas tersebut mampu mengolah gas input hingga kapasitas terpasang 40 MMSCFD.
"LPG yang diproduksi adalah 160 LPG per hari atau setara dengan 52.800 ton per tahun. Kemudian kondensat menghasilkan 320 BPD atau setara dengan 105.600 barrel per tahun," jelas Sarjono. Ia menambahkan operasional kilang ini menjadi wujud keterlibatan sektor swasta dalam memperkuat ketahanan energi nasional melalui sinergi dengan pemerintah dan BUMN.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)