AS Pindahkan Drone MQ-9 Reaper ke Kolombia dan Ekuador, Operasi Buru Kartel Narkoba Diperluas
Amerika Serikat memindahkan sejumlah drone MQ-9 Reaper dari Afrika ke Kolombia dan Ekuador untuk memperluas operasi militer terhadap kartel narkoba di Amerika Latin. Langkah ini disebut sebagai sinyal kuat komitmen pemerintahan Trump, meski memicu kekhawatiran hak asasi manusia dan keraguan analis soal efektivitasnya.
Amerika Serikat mengambil langkah baru dalam perang melawan kartel narkoba di Amerika Latin. Sejumlah pesawat nirawak atau drone dipindahkan dari Afrika ke Kolombia dan Ekuador, menandai peningkatan fokus pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap operasi pemberantasan penyelundup narkoba di kawasan tersebut.
Informasi ini diungkap dua pejabat AS yang mengetahui keputusan itu. Keduanya meminta identitasnya dirahasiakan karena tidak berwenang berbicara terbuka soal operasi militer. Menurut mereka, pemindahan drone bertujuan mendukung peningkatan operasi militer terhadap kelompok penyelundup narkoba.
Drone yang dikerahkan adalah MQ-9 Reaper, pesawat militer yang mampu melakukan pengawasan sekaligus serangan presisi. Kemampuan itu membuatnya dijuluki hunter-killer atau pemburu sekaligus pembunuh. Reaper dilengkapi kamera termal dan perangkat penyadap komunikasi elektronik.
Harga satu unit MQ-9 Reaper bisa mencapai US$50 juta. Jumlahnya pun terbatas setelah sedikitnya 45 unit atau sekitar seperempat armada AS hancur dalam berbagai konflik yang berkaitan dengan Iran. Pesawat ini pernah digunakan dalam operasi yang menewaskan Mayjen Qassim Suleimani, komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran, pada 2020.
Komandan militer tertinggi AS untuk sebagian besar wilayah Amerika Latin, Jenderal Francis L. Donovan, sebelumnya menyatakan Washington berencana memperluas operasi militer terhadap penyelundup narkoba. Operasi yang semula menyasar kapal disebut akan diperluas hingga serangan di darat.
Mantan diplomat AS, Francisco Palmieri, menilai pemindahan drone ini sebagai sinyal kuat bahwa pemerintah Trump serius memperluas operasi di kawasan. "Namun, sebagai simbol politik, maknanya sangat jelas," kata Palmieri, yang ikut merumuskan strategi pemberantasan narkoba AS, termasuk pada masa jabatan pertama Trump. Ia juga pernah menjadi penjabat duta besar AS untuk Kolombia pada era Presiden Joseph R. Biden Jr.
Palmieri mengaku tidak dapat menilai arti penempatan drone dari sisi operasional. Namun, menurut dia, langkah itu menunjukkan komitmen untuk memperluas tingkat maupun jenis kerja sama yang ada. Peningkatan operasi militer AS terhadap penyelundup narkoba memicu kekhawatiran kelompok hak asasi manusia karena serangan dikhawatirkan membahayakan warga sipil.
Sejumlah analis juga mempertanyakan efektivitas strategi tersebut. Menurut mereka, membunuh anggota kelompok penyelundup, termasuk pemimpinnya, tidak selalu menghentikan perdagangan narkoba karena posisi kosong dapat segera digantikan orang lain. Sebelumnya, pemerintah AS membenarkan serangkaian serangan mematikan terhadap kapal yang diduga membawa narkoba dengan menyebut penumpangnya sebagai kombatan musuh. Namun, sejumlah pakar hukum menilai serangan itu ilegal karena orang di kapal, meski diduga terlibat pidana, tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap AS.
Kolombia dan Ekuador termasuk sedikit negara di kawasan yang sepakat menjalankan operasi gabungan dengan AS di wilayah masing-masing. Di kedua negara itu terdapat kelompok penyelundup yang telah ditetapkan Washington sebagai organisasi teroris. Jumlah pasti MQ-9 Reaper yang dikirim belum diketahui. Pejabat AS hanya menyebut jumlahnya kecil dan belum jelas berapa unit yang sudah tiba di masing-masing negara.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)