Analisis: Houthi Diduga Serang Arab Saudi dari Irak
Analisis Saudi dan mitra regional menunjukkan Houthi Yaman meluncurkan serangan ke Arab Saudi dari wilayah Irak, berkoordinasi dengan kelompok bersenjata Irak dan diduga di bawah pengawasan IRGC. Kerja sama ini menegaskan peran Irak dalam Poros Perlawanan, memicu serangan balasan Saudi dan AS yang menewaskan 20 orang.
Jakarta, CNN Indonesia -- Milisi Houthi Yaman diduga meluncurkan serangan ke Arab Saudi pada pekan ini dari wilayah Irak. Dugaan ini muncul dari analisis yang dilakukan oleh Arab Saudi dan mitra regionalnya, yang menyebut adanya koordinasi antara Houthi dan kelompok bersenjata di Irak, bahkan beberapa serangan dilakukan secara bersama-sama.
Analisis tersebut juga mengungkapkan bahwa serangan-serangan itu berada di bawah pengawasan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Namun, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari Houthi, milisi Irak, maupun IRGC mengenai tuduhan keterlibatan mereka dalam serangan dari Irak tersebut.
Kerja sama antara Houthi dan kelompok bersenjata Irak sebenarnya telah berlangsung lama, terutama dengan Kataib Hizbullah, faksi Irak yang paling bersenjata lengkap dan terorganisir. Pada 2024, pemimpin Houthi Abdul Malik al Houthi mengumumkan pembentukan ruang operasi gabungan antara milisinya dan faksi-faksi Irak. Pada tahun yang sama, Houthi dan Kataib Hizbullah mengumumkan operasi gabungan pertama yang menargetkan Israel.
Houthi juga memiliki perwakilan tetap di Irak, Ahmed al-Sharafi, yang memiliki kantor resmi di negara tersebut. Al-Sharafi bahkan pernah mengadakan pertemuan dengan partai-partai Syiah Irak yang bersekutu dengan Iran serta faksi-faksi bersenjata di Irak.
Jika serangan tersebut benar-benar dilakukan secara bersama-sama, hal ini menunjukkan kedalaman hubungan dan kemampuan Poros Perlawanan Iran untuk menimbulkan kerusakan terhadap sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah. Serangan-serangan ini juga memperlihatkan peran Irak yang semakin penting sebagai penghubung dalam Poros Perlawanan, terutama setelah penggulingan pemimpin Suriah Bashar al-Assad dan melemahnya Hizbullah di Lebanon.
Irak menjadi sorotan setelah digempur habis-habisan oleh Arab Saudi dan Amerika Serikat pada Rabu pekan ini. Menurut laporan, serangan tersebut menargetkan setidaknya tujuh provinsi di Irak dan mengakibatkan 20 orang tewas. Pemerintah Irak mengecam operasi ini dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional dan Piagam PBB.
Arab Saudi, dalam rilis resminya, menyatakan bahwa operasi gabungan tersebut merupakan tanggapan atas serangan yang diluncurkan dari Irak beberapa hari sebelumnya. Riyadh, yang biasanya menahan diri dari aksi militer, menegaskan akan mengambil tindakan tegas jika serangan terus berlanjut.
Di luar itu, Arab Saudi dan Houthi dalam beberapa waktu terakhir saling gempur. Milisi Houthi bahkan memblokir secara maritim Arab Saudi di Laut Merah dan mengumumkan akan menutup Selat Bab Al Mandab. Serangkaian konflik ini terjadi di tengah perang Amerika Serikat versus Iran yang kembali berkobar.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0