Tiga Kriteria Bullying Menurut Pengamat Pendidikan, Candaan Belum Tentu Perundungan
Pengamat Pendidikan Universitas Negeri Padang, Dr. Indah Sukmawati, menegaskan bahwa tidak semua candaan di sekolah dapat dikategorikan sebagai bullying. Dalam dialog Info Sumbar, ia memaparkan tiga kriteria utama perundungan: ketidaknyamanan salah satu pihak, pengulangan perilaku, dan adanya ketidakseimbangan kekuatan. Ia juga mengingatkan bahwa bullying bisa terjadi di mana saja, dan rasa aman merupakan kebutuhan dasar anak yang harus dijaga.
Padang – Pengamat Pendidikan Universitas Negeri Padang, Dr. Indah Sukmawati, meluruskan anggapan umum bahwa setiap candaan di lingkungan sekolah otomatis dapat disebut sebagai perundungan atau bullying. Menurutnya, ada sejumlah indikator yang harus dipenuhi sebelum sebuah perilaku layak dikategorikan sebagai perundungan.
Dalam dialog bertajuk "Peta Isu" yang digelar Info Sumbar pada Kamis (13/8/2026), Indah mengungkapkan setidaknya ada tiga kriteria utama yang menjadi acuan untuk menilai sebuah candaan berubah menjadi perundungan. Kriteria pertama adalah apakah semua pihak yang terlibat merasa senang saat bercanda. Jika ada salah satu pihak yang merasa tidak nyaman atau tidak menerima candaan tersebut, maka hal itu sudah menunjukkan kecenderungan ke arah perundungan.
"Pertama, apakah semua pihak sewaktu bercanda itu menyenangkan? Happy, semua pihak. Itu oke, itu bercanda. Tapi kalau ada salah satu pihak yang tidak menerima atau tidak suka, itu kita bisa klasifikasikan ada kecenderungan," ujar Indah dalam talkshow yang dipandu oleh Pebri Anita Sari.
Kriteria kedua, lanjut Indah, adalah frekuensi atau pengulangan perilaku. Perundungan biasanya terjadi secara berulang dengan intensitas tertentu. Sedangkan kriteria ketiga adalah adanya unsur ketidakseimbangan kekuatan, seperti hubungan atasan-bawahan. Jika pihak yang menerima candaan tidak mampu membalas secara seimbang, maka hal itu tidak bisa lagi dianggap sekadar candaan.
Indah juga menegaskan bahwa perundungan tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah. "Bisa terjadi di mana saja. Sebenarnya bukan hanya di sekolah. Di mana saja, termasuk di kampus, di kantor. Ada pelaku, ada korban, dan ada penonton atau bystander," jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Indah menyoroti perubahan sistem pendidikan yang kini tidak lagi berfokus pada peringkat atau ranking. Sekolah saat ini lebih mengarahkan perhatian pada pengembangan minat dan bakat siswa. Ia menekankan bahwa rasa aman merupakan kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi sebelum hal lainnya.
"Keamanan itu kebutuhan dasar menurut Maslow. Rasa aman itu nomor dua setelah fisiologis. Lebih efektif kalau sebelum anak jatuh kita sudah hindarkan kerikil-kerikil yang akan mengganggu," tutup Indah.
Dialog tersebut juga menghadirkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang, Yopi Krislova, dan Psikolog Universitas Negeri Padang, Wirza Feny Rahayu. Pembahasan lengkap mengenai bullying di sekolah dapat disaksikan melalui kanal YouTube @infosumbartv.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0