Tak Tamat SD, Pria Ini Pimpin Togo 38 Tahun dan Serahkan Kekuasaan ke Anaknya

Gnassingbe Eyadema, Presiden Togo selama 38 tahun, dikenal sebagai pemimpin yang tidak menamatkan pendidikan Sekolah Dasar. Ia merebut kekuasaan melalui kudeta pada usia 28 tahun, membangun rezim satu partai, dan digantikan oleh anaknya, Faure Gnassingbe, setelah kematiannya pada 2005.

Oct 09, 2026 - 08:02
Updated: 8 hours ago
0 0
Tak Tamat SD, Pria Ini Pimpin Togo 38 Tahun dan Serahkan Kekuasaan ke Anaknya
Tak Tamat SD, Pria Ini Pimpin Togo 38 Tahun dan Serahkan Kekuasaan ke Anaknya

Gnassingbe Eyadema, mantan Presiden Togo, menjadi salah satu pemimpin dunia yang paling lama berkuasa meski hanya mengenyam pendidikan dasar yang sangat minim. Ia meninggalkan bangku Sekolah Dasar dan lebih memilih bergabung dengan Angkatan Darat Prancis pada 1953 saat usianya baru 18 tahun. Selama delapan tahun bertugas, ia meraih sejumlah penghargaan dalam pertempuran di Indochina dan Aljazair hingga mencapai pangkat sersan.

Sepulang ke Togo yang baru merdeka pada 1962, Eyadema dan rekan-rekannya ditolak masuk ke militer nasional oleh Presiden pertama Sylvanus Olympio. Penolakan itu berbuntut panjang. Eyadema ikut mengorganisir kudeta yang menggulingkan Olympio, dan pada usia 28 tahun ia sudah menduduki posisi orang nomor satu di Togo. Pada masa awal pemerintahannya, ia tampak canggung dan kesulitan membacakan pidato dalam bahasa Prancis. Bahkan, penasihat Afrika Presiden Charles de Gaulle, Jacques Foccart, dikabarkan sempat ikut mengarahkan Togo melalui sambungan telepon.

Meski minim pengalaman, Eyadema tidak ragu menggunakan kekuasaan secara brutal. Lawan-lawan politiknya diasingkan atau tewas secara misterius, seperti yang dialami mantan Wakil Presiden Meatchi dan Kolonel Koffi Kongo. Pers barat menjulukinya sebagai dinosaurus terakhir di antara para diktator era pasca-kemerdekaan Afrika. Ia memerintah dengan kombinasi teror dan kultus individu, termasuk mengklaim selamat dari kecelakaan pesawat pada 1974 serta beberapa upaya pembunuhan. Konon, ia membawa jimat berupa buku catatan yang tertembus peluru.

Untuk memperkokoh rezimnya, Eyadema mendirikan partai Rassemblement du Peuple Togolais pada 1969 dan memberikan bentuk konstitusionalitas pada pemerintahan satu partai. Pemilu baru digelar pada 1980-an. Selama 38 tahun berkuasa, ia menjadi simbol kekuasaan otoriter yang panjang di Afrika. Eyadema akhirnya meninggal pada 2005 di usia 69 tahun.

Sebelum wafat, Eyadema menunjuk anaknya, Faure Gnassingbe, yang lahir 6 Juni 1966, untuk melanjutkan tampuk kepemimpinan. Setelah perubahan konstitusi, Faure menjabat sebagai presiden dewan sejak 2025 hingga sekarang. Meski tidak menyandang gelar presiden, posisi itu merupakan peran eksekutif yang sangat kuat dan berpengaruh, mirip dengan perdana menteri, yang diciptakan oleh konstitusi negara tahun 2024. Dengan demikian, dinasti politik keluarga Eyadema tetap berlanjut di Togo.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User