Sampah Bekasi 1.800 Ton per Hari, Zulhas Beberkan Jurus Pilah-Olah hingga Jadi Energi

Menko Pangan Zulkifli Hasan mendorong percepatan penanganan sampah Bekasi yang mencapai 1.800 ton per hari dan masuk kategori darurat. Strategi mencakup pemilahan dari rumah, pembangunan PSEL berkapasitas 1.500 ton per hari, hingga teknologi pirolisis untuk timbunan sampah lama yang berpotensi menghasilkan BBM terbarukan.

Oct 17, 2026 - 12:03
Updated: 1 day ago
0
Sampah Bekasi 1.800 Ton per Hari, Zulhas Beberkan Jurus Pilah-Olah hingga Jadi Energi
Sampah Bekasi 1.800 Ton per Hari, Zulhas Beberkan Jurus Pilah-Olah hingga Jadi Energi

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas menegaskan percepatan penanganan persoalan sampah di Bekasi harus dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir. Hal ini disampaikannya di Kota Bekasi, menyusul kondisi timbulan sampah Kota Bekasi yang mencapai sekitar 1.800 ton per hari dan telah masuk kategori darurat sampah.

Zulhas menekankan bahwa masyarakat tidak boleh lagi hidup dalam lingkungan yang tercemar udara, tanah, dan air akibat sampah yang tidak terkelola. Karena itu, ia mengoordinasikan seluruh pihak agar bergerak cepat menyelesaikan persoalan tersebut.

Di sisi hilir, pemerintah menyiapkan pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Kota Bekasi sebagai langkah konkret mempercepat penanganan kedaruratan sampah perkotaan melalui teknologi Waste to Energy. Fasilitas ini ditargetkan mampu mengolah sekitar 1.500 ton sampah per hari atau sekitar 70 persen sampah Kota Bekasi.

Menurut Zulhas, PSEL Bekasi mendatangkan empat manfaat sekaligus, yaitu pengelolaan sampah, menghasilkan energi hijau, mengurangi emisi, dan menggerakkan ekonomi lokal. Ia menyebut pengolahan sampah ini akan menurunkan emisi dari TPA sebesar 80 persen serta menciptakan 1.000 lapangan kerja.

Pemerintah juga mencatat pada Juli 2026 telah dilakukan groundbreaking PSEL Bali dan Legoknangka, Jawa Barat. Setelah Bekasi, pembangunan akan dilanjutkan dengan PSEL Bogor Raya-1. Secara keseluruhan, pemerintah akan segera memiliki 13 lokasi PSEL baru, termasuk PSEL Kota Palembang yang diharapkan mulai beroperasi pada Oktober 2026.

Meski demikian, Zulhas mengingatkan PSEL bukan solusi tunggal. Jika seluruh PSEL tersebut beroperasi, kapasitasnya baru akan menyelesaikan sekitar 22,5 persen timbulan sampah. Karena itu, pengurangan dan pemilahan sampah dari sumber serta penggunaan berbagai teknologi pengolahan tetap menjadi bagian penting dari strategi nasional.

Ia menilai memilah sampah sejak dari sumbernya merupakan langkah sederhana namun sangat penting. Sampah yang sudah dipilah akan memudahkan proses selanjutnya, dan jika dilakukan konsisten, volume sampah yang diangkut ke TPA akan jauh berkurang.

Selain mengolah timbulan sampah baru melalui PSEL, pemerintah menyiapkan solusi untuk timbunan sampah lama di TPA melalui teknologi pirolisis. Kementerian Koordinator Bidang Pangan mengapresiasi dukungan TNI AD dalam pengembangan teknologi tersebut melalui pilot project di lima lokasi. Pirolisis dapat mengolah timbunan sampah lama menjadi sumber energi baru berupa BBM terbarukan setara solar, dan jika diterapkan penuh secara nasional berpotensi mengurangi sekitar 20 persen timbulan sampah.

Melalui berbagai pendekatan itu, pemerintah berharap persoalan sampah Bekasi dapat menjadi contoh transformasi pengelolaan sampah yang terintegrasi dari hulu ke hilir, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User