Rwanda Kembalikan F1 ke Afrika Usai 30 Tahun, Modal Pertumbuhan Ekonomi 9,7 Persen

Rwanda resmi menjadi tuan rumah Formula 1 dengan kesepakatan 10 tahun, membawa balapan kembali ke Afrika sejak 1993. Keputusan ini didukung pertumbuhan ekonomi Rwanda yang mencapai 9,7 persen pada semester I 2026, meski negara itu pernah dilanda genosida 1994 yang menewaskan lebih dari satu juta orang.

Oct 14, 2026 - 08:02
Updated: 9 hours ago
0 0
Rwanda Kembalikan F1 ke Afrika Usai 30 Tahun, Modal Pertumbuhan Ekonomi 9,7 Persen
Rwanda Kembalikan F1 ke Afrika Usai 30 Tahun, Modal Pertumbuhan Ekonomi 9,7 Persen

Rwanda dipastikan menjadi tuan rumah balapan Formula 1 setelah mencapai kesepakatan selama 10 tahun. Ajang bergengsi tersebut direncanakan masuk dalam kalender F1 pada awal dekade 2030-an, menandai kembalinya balapan ke Benua Afrika untuk pertama kali sejak 1993, ketika GP Afrika Selatan digelar di Sirkuit Kyalami, Gauteng.

Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Formula 1 melalui akun resmi mereka. Meski tanggal pasti penyelenggaraan belum ditetapkan, F1 menegaskan komitmen jangka panjang untuk menggelar balapan di Rwanda.

"Formula 1 kembali ke Afrika dengan kesepakatan 10 tahun balapan di Rwanda. African Grand Prix direncanakan bakal bergabung ke kalender F1 pada awal 2030-an," demikian pernyataan resmi F1. Mereka menambahkan bahwa kehadiran Rwanda akan membuat olahraga ini digelar di setiap benua, mendekatkan kejuaraan dunia kepada para penggemar di seluruh dunia.

Presiden F1 Stefano Domenicali menyebut Afrika selalu menjadi bagian dari masa depan Formula One. Menurutnya, kembalinya F1 ke Afrika harus dilakukan dengan cara dan mitra yang tepat, berlandaskan komitmen jangka panjang serta visi yang jelas untuk menghadirkan dampak berkualitas.

Pemilihan Rwanda sebagai tuan rumah tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi negara tersebut yang dinilai sangat pesat. Data yang dikutip dari Xinhua menunjukkan ekonomi Rwanda tumbuh kuat pada semester pertama 2026 dengan produk domestik bruto riil meningkat 9,7 persen secara tahunan, didorong oleh sektor jasa, industri, dan pertanian.

Sektor jasa menjadi penopang utama ekspansi ekonomi dengan pertumbuhan 7,4 persen, terutama ditopang kinerja perdagangan dan transportasi. Sementara itu, sektor industri mencatat pertumbuhan 15,5 persen dan sektor pertanian berkembang 5,9 persen pada periode yang sama.

Gubernur Bank Nasional Rwanda, Soraya Hakuziyaremye, menyatakan bahwa pertumbuhan PDB sebesar 9,7 persen dalam enam bulan pertama merupakan capaian yang sangat tinggi di tengah guncangan ekonomi yang dialami tahun ini. Ia menekankan pertumbuhan tersebut bersifat luas, dengan konstruksi dan manufaktur memainkan peran kunci.

Kemajuan Rwanda ini menjadi sorotan mengingat sejarah kelam negara tersebut. Pada 1994, Rwanda dilanda perang suku antara Hutu dan Tutsi yang masuk kategori genosida. Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat lebih dari satu juta orang tewas dan sekitar 150.000 hingga 250.000 wanita menjadi korban pemerkosaan.

Tragedi itu dipicu oleh kematian Presiden Burundi dan Rwanda dalam kecelakaan pesawat akibat serangan roket pada 6 April 1994. Peristiwa tersebut memicu pembantaian massal yang intensif dan sistematis selama beberapa pekan, dengan pos pemeriksaan didirikan untuk mengidentifikasi warga Tutsi. Pemerintah Rwanda baru memulai persidangan genosida pada akhir 1996, dan pada tahun 2000 masih terdapat lebih dari 100.000 tersangka yang menunggu persidangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User