Riset Prediksi 19.300 Kematian Berlebih di Indonesia Saat El Nino, Seberapa Valid?

Riset Climate Impact Lab memperkirakan 19.300 kematian berlebih di Indonesia selama El Nino 2026, memicu pertanyaan tentang validitas data karena registrasi kematian Indonesia hanya 56,7%. Metode ekstrapolasi dari 40 negara digunakan, namun WHO memperingatkan risiko kesehatan serius seperti asap kebakaran hutan dan penyakit pernapasan.

Oct 07, 2026 - 04:02
Updated: 2 days ago
0 0
Riset Prediksi 19.300 Kematian Berlebih di Indonesia Saat El Nino, Seberapa Valid?
Riset Prediksi 19.300 Kematian Berlebih di Indonesia Saat El Nino, Seberapa Valid?

Laporan riset yang dirilis akhir September 2026 oleh Climate Impact Lab (CIL), lembaga di bawah University of Chicago, menempatkan Indonesia sebagai salah satu wilayah paling berisiko terdampak El Nino. Proyeksi mereka menyebutkan sekitar 19.300 kematian berlebih (excess death) terkait suhu panas di Indonesia sepanjang September 2026 hingga Februari 2027, dibandingkan rata-rata periode yang sama pada 1996-2025. Angka ini bukan jumlah kematian langsung akibat heatstroke, melainkan kematian dari berbagai penyebab yang secara statistik berkaitan dengan kenaikan suhu. Dalam riset yang melibatkan 40 negara, Indonesia menempati posisi dengan proyeksi kematian tertinggi. Namun, metodologi CIL saat publikasi masih dalam proses peer-review penuh.

Pertanyaan besar muncul: bagaimana angka belasan ribu kematian itu bisa diprediksi? Di Eropa, kematian berlebih akibat gelombang panas dapat diketahui hampir real-time melalui jaringan EuroMOMO yang memantau data kematian aktual dari catatan sipil 29 negara. Data riil itu dibandingkan dengan baseline historis per kelompok umur, lalu lonjakan di luar tren diidentifikasi sebagai excess mortality. Sayangnya, Indonesia tidak memiliki data kematian yang memadai. Laporan Statistik Hayati Indonesia 2019-2023 menunjukkan registrasi kematian hanya tercatat 56,7% pada 2023, artinya hanya sekitar separuh kematian yang memiliki akta resmi di Dukcapil.

Karena keterbatasan data, tim CIL menggunakan ekstrapolasi dengan mengambil pola hubungan suhu dan kematian dari 40 negara lain yang dianggap mirip Indonesia dari sisi iklim dan pendapatan. Pola itu diterapkan ke Indonesia dengan asumsi hasilnya mendekati. Namun, metode ini tidak bisa divalidasi untuk kasus spesifik seperti El Nino 1997-98 atau 2015-16. Tim CIL sendiri mengakui tidak dapat melakukan backtest pada periode tersebut. Ini menunjukkan data pengukuran langsung seperti EuroMOMO jauh lebih unggul dibanding data ekstrapolasi.

Meski demikian, sejumlah studi global mengonfirmasi kaitan suhu dan kematian. Riset Qi Zhao dari Universitas Jiao Tong Shanghai yang diterbitkan Lancet Planetary Health (2021) menemukan perubahan suhu signifikan menyebabkan tambahan kematian global, meski mayoritas terkait suhu dingin dan hanya sekitar 10% suhu panas. Data itu diukur dari 750 lokasi di 43 negara dengan data kematian yang diandalkan. Tamma Carleton dari UC Berkeley, bagian tim CIL, menjelaskan bahwa kematian akibat panas sering tidak tercatat resmi sebagai kematian panas, melainkan muncul sebagai penyakit jantung, pernapasan, ginjal, dan sebab lain, sehingga hanya terdeteksi secara statistik sebagai kematian berlebih.

Angka 19.300 kematian berlebih dalam enam bulan setara dengan sekitar 2% dari total kematian yang biasanya diperkirakan terjadi di Indonesia pada periode September-Februari. Sebagai perbandingan, riset Universitas Harvard tentang kabut asap 2015 memperkirakan 91.600 kematian berlebih, sementara pemerintah resmi mencatat hanya 19 kematian. Jurang antara prediksi dan kematian sesungguhnya akan terus melebar selama pencatatan kematian tidak rinci dan teliti.

Di luar debat statistik, WHO pada akhir Juli 2026 menerbitkan peringatan kesehatan akibat El Nino. Laporan WMO memperkirakan El Nino menguat Agustus-Oktober dan memuncak akhir 2026, dengan kemungkinan Indian Ocean Dipole positif yang memperparah kekeringan di Indonesia hingga Desember. WHO menyoroti risiko asap kebakaran hutan, polusi udara, penyakit pernapasan, demam berdarah, stres panas, malanutrisi, kerawanan pangan, dan memburuknya penyakit tidak menular. Pemerintah dan warga diminta bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Pelajaran bisa diambil dari Ahmedabad, India, yang pernah dilanda suhu 46,8°C pada Mei 2010 dan mencatat 1.344 kematian berlebih (kenaikan 43,1%). Pemerintah kota menerapkan Heat Action Plan berbiaya rendah, seperti informasi cuaca via SMS dan radio dengan kode warna, atap reflektif di permukiman kumuh, penyesuaian jam kerja buruh luar ruangan, dan titik air minum gratis. Studi di Journal of Environmental and Public Health (2018) menyebut upaya itu berhasil mencegah sekitar 1.190 kematian per tahun, dengan risiko kematian pada suhu ekstrem turun dari 2,34 kali lipat menjadi 1,25 kali lipat dari normal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User