Presiden COP31 Peringatkan Bahaya Krisis Iklim Setara Ancaman Militer, Soroti Nasib Tuvalu

Presiden COP31 Murat Kurum menegaskan krisis iklim merupakan ancaman nyata yang tak kalah penting dari ancaman militer. Dalam kunjungan pra-COP ke Tuvalu bersama perwakilan 30 negara, ia menyoroti kerentanan negara kepulauan Pasifik yang terancam tenggelam akibat kenaikan air laut dan menyerukan pendanaan US$1,5 miliar untuk target 1,5 derajat Celsius.

Oct 09, 2026 - 12:02
Updated: 9 hours ago
0 0
Presiden COP31 Peringatkan Bahaya Krisis Iklim Setara Ancaman Militer, Soroti Nasib Tuvalu
Presiden COP31 Peringatkan Bahaya Krisis Iklim Setara Ancaman Militer, Soroti Nasib Tuvalu

Presiden COP31 Murat Kurum menyatakan bahwa krisis iklim merupakan ancaman nyata yang tidak kalah serius dibandingkan ancaman militer. Pernyataan itu disampaikannya di tengah meningkatnya suhu global dan dampaknya yang semakin dirasakan masyarakat dunia. COP31 sendiri dijadwalkan berlangsung di Antalya, Turki, pada November mendatang sebagai forum iklim tahunan PBB untuk mengevaluasi upaya global membatasi pemanasan dan membangun ketahanan terhadap perubahan iklim.

Kurum, yang juga menjabat Menteri Iklim Turki, menekankan bahwa saat ini banyak pihak justru menghindari tanggung jawab. Ia mengingatkan tidak ada waktu yang bisa disia-siakan dalam menghadapi krisis ini. "Saat ini semua orang lari dari tanggung jawab. Kita tidak punya waktu satu menit pun, satu hari pun untuk disia-siakan," ujarnya seperti dikutip Reuters, Kamis (8/10).

Sebagai rangkaian persiapan COP, Kurum bersama perwakilan dari 30 negara mengunjungi Tuvalu pada Selasa (6/10). Kunjungan itu bertujuan melihat langsung dampak perubahan iklim di negara kepulauan Pasifik yang memiliki ketinggian rata-rata hanya sekitar 2 meter di atas permukaan laut. Tuvalu kini menghadapi banjir yang semakin sering, intrusi air asin, serta cuaca yang kian tidak menentu.

Kurum menyoroti bahwa para ibu dan anak-anak di negara berdataran rendah tersebut semakin terancam tenggelam akibat naiknya permukaan air laut. Menurutnya, banyak pihak secara sengaja mengabaikan tanggung jawab dalam upaya perbaikan dan penanganan perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia.

Negara-negara kepulauan Pasifik memanfaatkan kunjungan pra-COP ini untuk menyuarakan kepentingan mendesak mereka. Mereka mendorong akses pendanaan yang lebih baik untuk proyek ketahanan, perlindungan lautan, serta upaya mencegah pemanasan global melebihi 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri. Program Lingkungan PBB menilai target tersebut dapat dicapai seiring waktu melalui pengurangan emisi, meski tidak mungkin dalam jangka pendek.

"Target 1,5 derajat ini adalah masalah kelangsungan hidup," tegas Kurum. "Kelangsungan hidup budaya, sejarah, kenangan, tanah air, dan rumah Anda," lanjutnya.

Kurum juga menyinggung komitmen negara-negara NATO yang meningkatkan anggaran pertahanan hingga 5 persen dari produk domestik bruto. Ia mempertanyakan arti pengeluaran besar itu jika negara tempat tinggalnya sendiri terancam hilang. "Apa artinya menghabiskan 5 persen untuk pertahanan jika Anda tidak memiliki negara untuk ditinggali? Apa artinya mempertahankannya?" katanya.

Ia menegaskan pendanaan sebesar US$1,5 miliar untuk target 1,5 derajat akan menyelamatkan Pasifik. "Kehidupan akan terus berlanjut di Tuvalu. Anak-anak akan tersenyum lagi," ungkapnya. Kurum berjanji prioritas Pasifik akan ditanggapi serius dalam COP31 di Turki. Perwakilan sekitar 30 negara yang hadir di Tuvalu juga menandatangani deklarasi yang mendukung tujuan tersebut dan menyerukan pengurangan emisi secara mendalam, cepat, dan berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User