Praktisi GIS Desak Pemerintah Manfaatkan Data Spasial, Mitigasi Kabut Asap di Sumbar Dinilai Belum Optimal

Praktisi GIS Timtim Deby Purnasebta mendesak pemerintah daerah mengoptimalkan data spasial untuk mitigasi kabut asap di Sumatera Barat. Data hotspot, dinamika atmosfer, dan arah angin dinilai krusial untuk mengukur risiko paparan asap terhadap kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Pemerintah juga diminta memetakan fasilitas publik guna pengambilan keputusan cepat.

Sep 29, 2026 - 20:03
Sep 29, 2026 - 20:03
 0
Praktisi GIS Desak Pemerintah Manfaatkan Data Spasial, Mitigasi Kabut Asap di Sumbar Dinilai Belum Optimal
Praktisi GIS Desak Pemerintah Manfaatkan Data Spasial, Mitigasi Kabut Asap di Sumbar Dinilai Belum Optimal

Pemerintah daerah di Sumatera Barat dinilai perlu lebih serius memanfaatkan data berbasis spasial untuk merancang langkah pencegahan dan mitigasi kabut asap yang lebih efektif. Dorongan itu disampaikan dalam Talkshow Peta Isu bertema "Padang Diselimuti Kabut Asap: Kabut Biasa atau Ancaman Kualitas Udara?" yang digelar Info Sumbar pada Kamis (3/9/2026).

Praktisi Geographic Information System (GIS), Timtim Deby Purnasebta, menegaskan bahwa data spasial soal titik panas atau hotspot, dinamika atmosfer, serta arah angin memegang peranan penting dalam menganalisis seberapa besar risiko paparan asap terhadap masyarakat. Menurutnya, kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia menjadi pihak yang paling perlu diperhatikan dalam analisis tersebut.

"Pemerintah perlu verifikasi data hotspot ke lapangan dan menganalisis ke mana arah asap terbawa. Dari situ kita bisa mengukur tingkat risiko saat kabut asap terpapar ke kelompok sensitif seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia," ujar Timtim dalam diskusi yang dipandu Pebri Anita Sari itu.

Selain analisis risiko, Timtim merekomendasikan agar pemerintah memetakan lokasi fasilitas publik, termasuk sekolah-sekolah. Pemetaan itu dinilai dapat menjadi dasar pengambilan keputusan yang cepat dan tepat sasaran, misalnya membatasi aktivitas luar ruangan bagi pelajar ketika indeks kualitas udara berada pada kategori tidak sehat.

Ia mengakui bahwa pencemaran udara bersifat dinamis dan bisa berubah dari hari ke hari, misalnya menurun setelah hujan deras. Meski demikian, data yang terkumpul tetap dapat dimanfaatkan lebih lanjut untuk kepentingan mitigasi.

Talkshow tersebut juga menghadirkan sejumlah narasumber lain, yakni Dr Sugeng Nugroho selaku Kepala Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototabang dan Perwakilan WALHI Sumbar, Tommy Adam. Penjelasan lengkap dari ketiga narasumber mengenai isu kabut asap yang melanda wilayah Sumbar dapat disaksikan melalui kanal YouTube @infosumbartv.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0