PM Jepang Sanae Takaichi Puji China sebagai Tetangga Penting, Sinyal Redakan Ketegangan?
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi memuji China sebagai tetangga penting dan berjanji membangun hubungan stabil, di tengah upaya meredakan ketegangan akibat isu Taiwan. Dalam pidato kebijakannya di parlemen, ia menegaskan Jepang tetap menjaga kepentingan nasional. Sanae juga menghadapi tantangan domestik seperti inflasi, kekhawatiran utang, dan penurunan populasi yang disebut krisis nasional.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyebut China sebagai salah satu tetangga penting bagi Tokyo. Pernyataan itu disampaikannya dalam pidato kebijakan di hadapan parlemen pada Senin (5/10), sebagai sinyal keinginan membangun hubungan yang lebih stabil dengan Beijing.
"China adalah tetangga penting, dan terlepas dari berbagai kesulitan, kami telah membangun hubungan yang telah terjalin lama selama bertahun-tahun," kata Takaichi. Ia menambahkan Jepang akan berupaya memastikan komunikasi mengenai tantangan bersama, mendorong dialog untuk melindungi kepentingan nasional, serta membangun hubungan yang konstruktif dan stabil.
Meski begitu, Sanae menegaskan Jepang tidak akan mengorbankan kepentingan nasionalnya. Tokyo, lanjut dia, tetap akan meminta China menunjukkan perilaku yang bertanggung jawab. Pernyataan itu dinilai sebagai langkah Sanae meredakan ketegangan dengan Beijing.
Hubungan Jepang dan China memburuk setelah Sanae pada November lalu mengisyaratkan Tokyo dapat ikut campur jika China menyerang Taiwan. China mengklaim Taiwan sebagai bagian wilayahnya dan menolak campur tangan negara lain. Ketegangan pun meningkat, dengan China memperingatkan warganya agar tidak bepergian ke Jepang pada tahun lalu, serta memberlakukan pembatasan perdagangan yang berdampak pada pasokan mineral tanah jarang ke perusahaan Jepang.
Upaya perbaikan hubungan muncul setelah diplomat tinggi China pekan lalu menyatakan hubungan kedua negara masih dapat kembali dinormalisasi. Pernyataan itu disampaikan saat diplomat tersebut bertemu mantan menteri luar negeri Jepang yang memimpin delegasi perdagangan ke Beijing.
Di sisi lain, Sanae masih menghadapi sejumlah tantangan domestik. Inflasi yang meningkat dan kekhawatiran pasar terhadap utang Jepang menjadi persoalan utama pemerintahannya. Kebijakan belanja pemerintah yang ekspansif sebelumnya sempat mengguncang pasar. Sanae menegaskan komitmennya menjalankan kebijakan fiskal yang proaktif sekaligus bertanggung jawab untuk menjaga kepercayaan pasar.
Sanae juga menyoroti penurunan populasi Jepang yang disebutnya sebagai "krisis nasional yang berkembang secara diam-diam". Ia berjanji menyusun strategi komprehensif untuk mengatasi masalah itu pada akhir tahun ini. Data pemerintah yang dirilis pada Juli menunjukkan jumlah penduduk Jepang turun di bawah 120 juta untuk pertama kalinya dalam 42 tahun.
Pidato kebijakan Sanae menandai dimulainya sidang parlemen Jepang yang akan berlangsung hingga Desember. Parlemen akan membahas sejumlah rancangan undang-undang, termasuk rencana pemotongan pajak konsumsi makanan selama dua tahun untuk mengurangi dampak inflasi terhadap masyarakat.
Dalam pidatonya, Sanae juga berjanji mendukung Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Komitmen itu disampaikan setelah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Presiden ICC asal Jepang, Tomoko Akane, pada Agustus.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)